<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730</id><updated>2011-11-20T11:14:26.440+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Islam</title><subtitle type='html'>Ilmu adalah Cahaya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-1636953860296307626</id><published>2009-12-09T11:49:00.003+07:00</published><updated>2009-12-09T11:57:49.717+07:00</updated><title type='text'>MUHARRAM BULAN SUCI UMMAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx8uQ_j069I/AAAAAAAAACA/cLk6tEX4yEQ/s1600-h/rmd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 95px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx8uQ_j069I/AAAAAAAAACA/cLk6tEX4yEQ/s320/rmd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5413096146597112786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MUHARRAM BULAN SUCI UMMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.&lt;br /&gt; (Al Isroo' : 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat tahun baru Islam, 1 Muharram 1431 H, kullu ‘aam wa antum bikhair,Taqobballahu Minna wa Minkum,  Semoga tahun-tahun kita penuh kebaikan.” Amin Ya Rabbal ’Alamin&lt;br /&gt;Bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Dialah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah). &lt;br /&gt;Para ahli membicarakan darimana dimulainya tahun Islami. Hal ini terjadi kurang lebih pada 16 H atau 17 H. maka sempat muncul berbagai pendapat, di antaranya: &lt;br /&gt;1) Dihitung dari kelahiran Rasulullah.&lt;br /&gt; 2) Dihitung dari kematian beliau. &lt;br /&gt;3) Dihitung dari hijrahnya beliau.&lt;br /&gt; 4) Dihitung sejak kerasulan beliau.&lt;br /&gt;perdebatan kembali muncul, setelah ditentukannya awal perhitungan tahun Islam.&lt;br /&gt;1) Rabiul awwal, karena mulai di perintahkannya Hijrah&lt;br /&gt;2) Ramadhan, Awal turunnya Al Qur’an&lt;br /&gt;3) Muharram, Bulan inilah yang di sepakati oleh Sahabat besar. &lt;br /&gt;Bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan haram sebagaimana difirmankan Allah SWT&lt;br /&gt;Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram[640]. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri[641] kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(At Taubah : 36) &lt;br /&gt;Ada empat bulan yang dimuliakan Allah swt. Yaitu, Bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Bulan Rajab. Di bulan-bulan ini umat manusia dihimbau untuk tidak melaksanakan pertumpahan darah. Dan bagi umat muslim, bulan-bulan ini dianjurkan untuk meningkatkan taqarrub ilallah, mendekat kepadaNya.&lt;br /&gt;Keutamaan Muharam &lt;br /&gt; - قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَر َبِصِيَامِهِ (Shahih Bukhari No 1900 ) &lt;br /&gt; - Pada awalnya, puasa 'aasyuura hukumnya wajib.&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةَ، صَلاَةُ اللَّيْلِ &lt;br /&gt; - "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Muharam, sedang salat yang paling afdal sesudah salat fardu adalah salat malam." &lt;br /&gt;(HR Muslim) &lt;br /&gt; - Abu Qatadah berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Puasa 'aasyuura menghapus dosa satu tahun, sedang puasa arafah menghapus dosa dua tahun." (HR Muslim, Tirmizi, Abu Daud).&lt;br /&gt;Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas beliau berkata: “Yang dimaksud dengan kaffarat (penebus) dosa adalah dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di sisi-Nya.” &lt;br /&gt; - Tidak berbuat dzalim pada bulan ini, baik yang kecil maupun yang besar. Allah berfirman, ” janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu. (QS. at-Taubah: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; - Ibnu Rajab al-Hambali mengatakan, Muharam disebut dengan syahrullah memiliki dua hikmah. &lt;br /&gt;Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharam. &lt;br /&gt;Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah dalam mengharamkan bulan Muharam. Pengharaman bulan ini untuk perang adalah mutlak hak Allah saja, tidak seorang pun selain-Nya berhak mengubah keharaman dan kemuliaan bulan Muharam.&lt;br /&gt;Pada zaman Rasul Sallallahu ’alaihi Wa sallam orang Yahudi berpuasa di karenakan memuliakan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah Tahun Baru Islam: &lt;br /&gt;- Merancang Hidup Lebih Baik&lt;br /&gt;- Menyambung tali silaturahmi&lt;br /&gt;- Ladang amal baik, sebagaimana sahabat Anshor kepada Muhajirin&lt;br /&gt;- Awal persaudaraan dalam Islam dan penguat persaudaraan.&lt;br /&gt;- Perbaiki hijrah dan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-1636953860296307626?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/1636953860296307626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=1636953860296307626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1636953860296307626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1636953860296307626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2009/12/muharram-bulan-suci-ummat_09.html' title='MUHARRAM BULAN SUCI UMMAT'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx8uQ_j069I/AAAAAAAAACA/cLk6tEX4yEQ/s72-c/rmd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-6089719211694919088</id><published>2009-12-08T14:47:00.001+07:00</published><updated>2009-12-08T15:00:14.005+07:00</updated><title type='text'>Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx4HeIsllxI/AAAAAAAAAB4/sRLDoPBry34/s1600-h/posisi+kaki.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 78px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx4HeIsllxI/AAAAAAAAAB4/sRLDoPBry34/s320/posisi+kaki.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412772016457881362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi &lt;br /&gt;4 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diketuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim, berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi Rukuk&lt;br /&gt;Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika Salat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi rukuk dan sujud bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahajjud&lt;br /&gt;Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural.(int/hpz). &lt;br /&gt; http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&amp;id=9577&amp;kat=5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-6089719211694919088?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/6089719211694919088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=6089719211694919088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6089719211694919088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6089719211694919088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2009/12/shalat-membantu-penderita-disfungsi.html' title='Shalat Membantu Penderita Disfungsi Ereksi'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/Sx4HeIsllxI/AAAAAAAAAB4/sRLDoPBry34/s72-c/posisi+kaki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-4400869648681431803</id><published>2009-05-29T11:45:00.000+07:00</published><updated>2009-05-29T11:46:29.329+07:00</updated><title type='text'>Panduan Untuk Para Guru, Pendidik dan Pendakwah</title><content type='html'>Dalam Al Qur’an Allah berfirman :&lt;br /&gt;Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik. (QS An-Nahl : 125).&lt;br /&gt;Ayat di atas menjelaskan bahwa perlunya para guru, pendidik dan pendakwah tidak hanya memberi atau menyampaikan ilmu saja tetapi diharapkan hingga menjadikan murid berusaha sungguh-sungguh untuk membuat perubahan nyata dalam diri mereka. Bukan mudah untuk menjadikan didikan yg berkesan. Kalau sekadar berdakwah secara umum semua orang dapat mengerjakannya.&lt;br /&gt;Ayat di atas memberikan panduan bagi kita supaya dakwah atau didikan berkesan, maka paling tidak ada 3 asas yang perlu dimiliki oleh guru, pendidik dan pendakwah. Tiga asas ini yang sangat penting yaitu : hikmah, nasehat yang baik dan berdiskusi dengan cara yang baik.&lt;br /&gt;1. ILMU DAN HIKMAH&lt;br /&gt;Mengapa dalam ayat tersebut Allah tidak berfirman sebagai berikut :&lt;br /&gt;hendaklah kamu menyeru kepada jalan Tuhanmu dengan ilmu?&lt;br /&gt;Sebab mendidik hanya dengan ilmu saja tidak akan memberi kesan dan perubahan pada sasaran dakwah atau murid.&lt;br /&gt;Kita dapat lihat realitasnya dalam masyarakat. Begitu meriahnya majelis taklim, pengajian di kantor-kantor, sekolah-sekolah Islam, pesantren-pesantren, oranganisasi-oranganisasi Islam, tetapi perubahan yang nyata dalam masyarakat belum nampak lagi. Banyak pejabat, pebisnis, tokoh dan anggota masyarakat yang rajin datang ke pengajian, mengerjakan sholat, haji, pergi umroh setiap tahun, tetapi masih membuat kejahatan lahir batin seperti : korupsi, membohong, menipu, tidak disiplin, sombong, pemarah, hasad dengki, bakhil, ego dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas Allah menyebut bahwa pendidikan yang dapat memberi kesan tidak cukup hanya dengan ilmu saja, tetapi memerlukan hikmah&lt;br /&gt;Apakah yang disebut hikmah itu ?&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda :&lt;br /&gt;“Barang siapa yang diberi ilmu hikmah dia diberi sesuatu yang banyak”&lt;br /&gt;Banyak orang yang menterjemahkan hikmah itu dengan bijaksana, tetapi sebenarnya bukan itu maksudnya, sebab dalam bahasa arab bikjaksana artinya lain. Sebab yang disebut bijaksana itu adalah Fatonah, yaitu bijaksana pada para Rasul Allah. Atau abqoriah.&lt;br /&gt;Tetapi yang dimaksud dengan hikmah di sini ialah ilmu di dalam ilmu. Ilmu yang tidak terdapat di dalam kitab. Artinya orang yang diberi hikmah itu diberi faham oleh Allah sehingga dia faham jalan fikiran, hati, roh, atau batin orang. Dia faham hal-hal rohani, nafsu, roh, dan akal manusia. Artinya orang yang mendapat ilmu hikmah ini, dia diberi ilmu dan kefahaman oleh Allah secara langsung melalui ilham.&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman :&lt;br /&gt;“Bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajar kamu ilmu”&lt;br /&gt;Inilah ilmu hikmah atau kefahaman yang Allah beri secara langsung ke dalam hati kita. Artinya setelah ada ilmu yang asas, dia diberi ilmu dan kefahaman lain oleh Allah. Ilmu asas mesti ada. Jadi kalau ingin berdakwah atau mendidik orang secara berkesan, para pendakwah dan guru mesti ada ilmu hikmah. Ilmu hikmah hanya Allah beri kepada orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;Karena tidak berhikmah, maka dia tidak akan dapat faham jalan fikiran, hati, roh, akal, perasaan atau batin orang, sehingga sasaran dakwah dan murid-murid susah untuk berubah menuju kepada kebaikan.&lt;br /&gt;Apakah itu taqwa?&lt;br /&gt;Taqwa bukan sekadar telah mengucapkan 2 kalimah syahadah, sholat, zakat, puasa dan haji saja. Taqwa adalah himpunan sifat-sifat baik yang ada dalam diri manusia, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama makhluk yang dibuat semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah.&lt;br /&gt;Diantara sifat baik terhadap Allah adalah : rasa bertuhan yang tajam, rasa cinta, takut, rindu, tawakkal, mengharap dengan Allah, rasa di awasi, diperhati oleh Allah, melaksanakan semua yang diperintah dan dianjurkan oleh Allah dan meninggalkan semua yang dilarang dan dibenci oleh Allah, semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah. Diantara sifat baik terhadap sesama makhluk dan manusia adalah : pemurah, kasih sayang, bertoleransi, tolong menolong, pemaaf, sabar dan lain-lain yang semuanya dibuat semata-mata untuk mencari redha dan kasih sayang Allah.&lt;br /&gt;Diantara ciri-ciri guru, pendidik dan pendakwah yang bertaqwa adalah seperti berikut :&lt;br /&gt;Hati mereka senantiasa bersama Allah, sehingga mereka takut, cinta, rindu, sensitif dan sangat membesarkan Allah&lt;br /&gt;Ibadah fardhu dan sunatnya kemas dan banyak.&lt;br /&gt;Akhlak mereka baik, boleh menawan hati orang lain seperti pemurah, tawadhuk, pemaaf, penyayang, bertolak-ansur, menghormati tetamu dan lain-lain lagi.&lt;br /&gt;Ukhuwah dan kasih sayang antara mereka begitu erat dan kukuh.&lt;br /&gt;Hukum Allah sangat mereka jaga, lebih dari rakyat jelata atau murid sehingga pribadi mereka menjadi contoh. Mereka sangat menjauhi larangan Allah yang haram dan makruh.&lt;br /&gt;Berdakwah dan mengajar dengan kasih sayang sekalipun terhadap orang kafir.&lt;br /&gt;Mereka hidup zuhud, tidak mengambil kepentingan peribadi dari dakwah dan pekerjaan mereka. Mereka tidak menjadikan dakwah dan mengajara itu sebagai sumber penghasilan. Bahkan harta mereka sendiri dikorbankan untuk kepentingan umat dan murid. Mereka hidup berdikari.&lt;br /&gt;Mereka sangat memberi layanan kepada umat dan murid dan menyelesaikan masalah umat, murid, pengikut dan penyokong-penyokongnya.&lt;br /&gt;Jemaah atau sekolah mereka gagah dan menjadi model atau bayangan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;2. MAUIZATUL HASANAH&lt;br /&gt;Mauizatul hasanah artinya nasehat yang baik. Artinya dalam berdakwah menyeru masyarakat kepada Allah atau dalam mendidik anak-anak murid, guru, pendidik dan pendakwah hendaknya memberi nasehat yang baik dengan memberi khabar gembira atau tabsyir. Misalnya dengan menceritakan indahnya hidup bersama Allah, indahnya ganjaran yang akan Allah beri di akhirat, pertolongan yang Allah beri kepada orang-orang yang bersunggug-sungguh menuju Allah dan sebagainya. Ajak pendengar atau murid-murid berfikir tentang kebesaran ALLAH, kuasa ALLAH, kehebatan ALLAH, kebaikan ALLAH, rahmat ALLAH serta nikmat-Nya. Ini akan mendidik jiwa tauhid agar tumbuh rasa kehambaan yang tinggi terhadap ALLAH SWT.&lt;br /&gt;Termasuk memberi nasehat yang baik adalah dengan menceritakan tanzir atau cerita-cerita yang menakutkan, misalnya menceritakan tentang Neraka dan azab ALLAH, serta ancaman-ancaman dan kemurkaan ALLAH bagi orang yang durhaka kepada Allah. Selain itu, termasuk memberi nasehat yang baik adalah menceritakan sejarah hidup para nabi, rasul dan orang-orang soleh. Cerita-cerita itu bermaksud untuk mendorong manusia agar melakukan amal soleh dan berakhlak mulia serta menjadi panduan kepada manusia, bagaimana mereka harus menjalani hidup sebenarnya.&lt;br /&gt;Supaya manusia menghindari sifat-sifat jahat dan agar selamat dari pada api Neraka, maka para pendakwah dan guru menceritakan perihal orang-orang jahat atau musuh ALLAH seperti Firaun, Namrud, Qarun, Haman dan lain-lain. Semuanya ini untuk dapat dijadikan iktibar dan pengajaran oleh para pendengar dan anak-anak murid.&lt;br /&gt;3. BIL AHSAN&lt;br /&gt;Dalam masyarakat ada berbagai golongan orang, ada golongan awam, ada golongan cerdik pandai, intelek, pemimpin, dan ulama. Terhadap golongan yang bukan awam ini para pendakwah mesti menggunakan kaedah “bil ahsan”.&lt;br /&gt;Artinya dengan cerdik pandai, intelek, pemimpin, ulama dan lain-lain, hendaklah para guru dan pendidik masyarakat berbincang dengan sebaik-baiknya, yaitu : bahasa mesti baik, bertutur kata mesti tersusun, kata-katanya keluar dari hati yang dihayati, dijiwai dan sudah ada kesungguhan untuk mengamalkan apa yang dikatakan.&lt;br /&gt;Para pendidik juga mesti ada ilmu yang luas walau secara umum dan serba sedikit yang mencakup ilmu pendidikan, politik, ekonomi, sosiology, sejarah, kebudayaan dan sebagainya. Tanpa alat-alat yang cukup ini, dakwah dan pendidikan kita tidak akan berkesan dan tidak mendorong masyarakat atau anak-anak didik untuk baiki diri. Tidak mendorong orang bukan Islam untuk masuk ke dalam Islam, karena mereka tidak melihat dan merasakan keindahan dan kecantikan Islam yang dibawa oleh para pendakwah dan pendidik masyarakat. Itu alat-alat yang bersifat maknawiyah.&lt;br /&gt;Selain itu yang dimaksud dengan bil ahsan adalah dengan menggunakan alat-alat yang berbentuk material, teknologi canggih dan fisik seperti persembahan nasyid, sajak, drama dan macam-macam alat modern lainnya. Bila alat-alat ini kurang atau tidak ada sama sekali, maka hasilnya orang akan jemu sehingga pesan dakwah tidak sampai, atau berdaakwah dengan mengumpat, memaki atau menjatuhkan orang, sebab bahan-bahan dan alat-alat dakwah tidak cukup.&lt;br /&gt;Para sahabat dahulu berdakwah pergi ke Cina hanya 2-3 orang saja, tetapi dalam waktu yang singkat, belum lagi para sahabat faham berbahasa Cina, sudah berbondong-bondong rakyat Cina masuk Islam. Apa rahasianya? Para sahabat memiliki 3 kekuatan utama yaitu&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;1. rasa bertuhan dan rasa kehambaan yg tajam, &lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;2. sikap dan akhlak mulia&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;3. ilmu dan hikmah&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;Para pendakwah sekarang lain, sudah 30 tahun berdakwah, tidak seorangpun masuk islam. Kalau umat tidak sholat, setelah didakwahi tetap tidak sholat juga, sebab para pendakwah tidak berdakwah dengan hikmah, mauizatil hasanah dan ahsan. Kadang-kadang berdakwah hasilnya lebih banyak kerusakan dari pada kebaikan, lahir golongan militan, sebab tidak ada hikmah, mauizatil hasanah dan ahsan. Akhirnya seluruh dunia Islam terancam.&lt;br /&gt;Sebab itu dikatakan, siapa yang sungguh-sungguh mengetahui ilmu Qur’an, maka dia akan tahu ilmu dunia dan ilmu akhirat. Ilmu akhirat berkaitan dengan syariat, tasawuf, tauhid dan ilmu dunia seperti ilmu politik, kemasyarakatan, psikologi, kebudayaan, sejarah, pendidikan dan lain-lain. Yang jadi masalah, para pendakwah kita kebanyakan tidak memiliki ilmu-ilmu itu, padahal sekarang kita banyak berhadapan dengan golongan cerdik pandai dan intelek. Anehnya orang yang mengaji Qur’an hanya tahu ilmu syariat, tauhid atau tasawuf saja, sedangkan ilmu sejarah, ilmu ekonomi, ilmu kebudayaan, ilmu politik, ilmu sosial ada dalam Qur’an. Dia tidak tahu karena kebanyakan guru-guru yang mengajarpun tidak faham ilmu-ilmu tersebut&lt;br /&gt;Tags: &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/departemen-pendidikan-nasional/" rel="tag"&gt;Departemen Pendidikan Nasional&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/guru/" rel="tag"&gt;Guru&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/hikmah/" rel="tag"&gt;Hikmah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/kementerian-pengajaran/" rel="tag"&gt;Kementerian Pengajaran&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/kurikulum/" rel="tag"&gt;Kurikulum&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/pembelajaran/" rel="tag"&gt;Pembelajaran&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/pendidikan/" rel="tag"&gt;Pendidikan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/sekolah/" rel="tag"&gt;Sekolah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/tasawuf/" rel="tag"&gt;Tasawuf&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wordpress.com/tag/tazkirah/" rel="tag"&gt;Tazkirah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-4400869648681431803?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/4400869648681431803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=4400869648681431803' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/4400869648681431803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/4400869648681431803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2009/05/panduan-untuk-para-guru-pendidik-dan.html' title='Panduan Untuk Para Guru, Pendidik dan Pendakwah'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-2510599414549031277</id><published>2008-11-21T13:30:00.001+07:00</published><updated>2008-11-21T13:39:48.638+07:00</updated><title type='text'>ILMU YANG MEMBAWA MANFAAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SSZXjW0VjjI/AAAAAAAAABM/xT36UMG0pJI/s1600-h/1W3CAUHGLKICA7KYX7ZCA64PVVGCAIQB74JCA873SHFCAEOE56ACAM9404RCARZNOH2CAGX65AGCAYBZBY7CAUB0S7ICAAZ3M2RCA6D2BENCAOCZ8Z2CABHHDAKCAMHFN15CALWL83QCAAD51M7CANLWGLA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270996678815878706" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SSZXjW0VjjI/AAAAAAAAABM/xT36UMG0pJI/s320/1W3CAUHGLKICA7KYX7ZCA64PVVGCAIQB74JCA873SHFCAEOE56ACAM9404RCARZNOH2CAGX65AGCAYBZBY7CAUB0S7ICAAZ3M2RCA6D2BENCAOCZ8Z2CABHHDAKCAMHFN15CALWL83QCAAD51M7CANLWGLA.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;6 Syarat Mendapatkan Ilmu&lt;br /&gt;Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, dalam bab qafiyah nuun (syi’ir yang berakhiran huruf nun) 6 syarat yang harus dipenuhi agar bisa mendapatkan ilmu, yaitu Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama&lt;br /&gt;1. Dzaka’ (kecerdasan).&lt;br /&gt;Kecerdasan ada dua macam. Pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.&lt;br /&gt;Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA’ LA TAQRA’ (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA‘ kok malah tidak MEMBACA).&lt;br /&gt;Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama’. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.&lt;br /&gt;Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.&lt;br /&gt;Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama’: tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah).&lt;br /&gt;Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.&lt;br /&gt;2. Hirsh (semangat).&lt;br /&gt;Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul ‘ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da’i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu),bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya’-nya.&lt;br /&gt;Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da’wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta’lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul ‘ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.&lt;br /&gt;3. Ishthibar (penuh kesabaran).&lt;br /&gt;Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.&lt;br /&gt;4. Bulghah (biaya, ongkos).&lt;br /&gt;Berbagai acara ta’lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.&lt;br /&gt;5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru).&lt;br /&gt;Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A ‘ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-’A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA ‘AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah ‘ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.&lt;br /&gt;6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang).&lt;br /&gt;Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur’an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur’an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).&lt;br /&gt;Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa’at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin.&lt;br /&gt;Oleh : Musyaffa’ Ahmad Rahimsumber : keadilan.or.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADAB PENUNTUT ILMU&lt;br /&gt;Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;1. Ikhlas karena Allah Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu MajahTetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.&lt;br /&gt;2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.&lt;br /&gt;3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.&lt;br /&gt;5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).&lt;br /&gt;6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.&lt;br /&gt;7. Mencari kebenaran dan sabarTermasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam.Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin.(Abu Luthfi)&lt;br /&gt;http://artikel.aldohas.com &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-2510599414549031277?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/2510599414549031277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=2510599414549031277' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/2510599414549031277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/2510599414549031277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/11/ilmu-yang-membawa-manfaat.html' title='ILMU YANG MEMBAWA MANFAAT'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SSZXjW0VjjI/AAAAAAAAABM/xT36UMG0pJI/s72-c/1W3CAUHGLKICA7KYX7ZCA64PVVGCAIQB74JCA873SHFCAEOE56ACAM9404RCARZNOH2CAGX65AGCAYBZBY7CAUB0S7ICAAZ3M2RCA6D2BENCAOCZ8Z2CABHHDAKCAMHFN15CALWL83QCAAD51M7CANLWGLA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-1236027067794193635</id><published>2008-11-14T10:02:00.002+07:00</published><updated>2008-11-14T10:05:58.781+07:00</updated><title type='text'>Menolak Relativisme “Iman” dan “Kufur”</title><content type='html'>Tuesday, 05 August 2008 13:25&lt;br /&gt;Paham relativ melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Paham seperti ini sudah tak mampu membedakan mana haq dan mana bathil&lt;br /&gt;Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *&lt;br /&gt;Konsep aqidah dalam Islam –Al-Quran dan sunnah—dijelaskan oleh Allah s.w.t. dan Nabi Muhammad s.a.w. dengan sangat detail. Maka istilah ‘iman-kufur’ bukan terminologi relatif. Ia merupakan istilah “final”, tidak bisa dikutak-katik lagi. Keduanya selalu vis-a-vis, laiknya terma-terma yang lain, semisal: haq-batil, thayyib-khabits, dsb.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, isu-isu keagamaan yang berkaitan dengan konsep ini sangat mudah untuk diidentifikasi dan dihukumi. Kasus Ahmadiyah, misalnya, sebenarnya tidak ada seorangpun yang meragukan letak “benar-salah”nya. Oleh karenanya, kaum liberal-sekular yang mengusung konsep “relativisme” salah besar ketika menyatakan bahwa Ahmadiyah itu dalam Islam. Karena lewat timbangan Al-Quran-Sunnah saja sudah ‘tidak lulus’. Pada gilirannya, mereka sama sesatnya. Karena ‘man tasyabbaha biqawmin fahuwa minhum’.&lt;br /&gt;Kaum liberal, sangat lihai dalam memanipulasi ayat-ayat yang menurut mereka mendukung konsep pemikirannya. Misalnya, Qs. Al-Baqarah [2]: 256 selalu dijadikan bamper oleh mereka. Kata ‘laa ikraaha fi al-diin’, senantiasa dijadikan entry-point untuk menusukkan ‘jarum’ relativisme ini. Di sini mereka ingin menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Karena agama itu sama, sama-sama benar. Ia ibarat “jari-jari”: banyak tapi menuju satu titik –tengah—yang satu (Allah). Bahkan ada yang menyatakan bahwa perbedaan agama itu letaknya pada tatara eksoteris saja. Pada tataran esoteris’nya semua agama adalah sama.&lt;br /&gt;Jika dilihat secara kritis, kata ‘laa ikraaha’ sebenarnya seperti yang dikatakan oleh Imam al-Harali, seperti yang dikutip oleh al-Biqa’i, bahwa di sana ada “pemaksaan halus” (al-ikraah al-khafiy). (Lihat, Imam Burhan al-Din Abu al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar al-Biqa’i (w. 885 H), Nazhm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Beirut-Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1995), I: 500). Kenapa? Bukan karena agama itu sama-sama benar, tapi karena “kebenaran dan kesesatan” telah jelas (qad tabayyana al-rusyd min al-ghayy). Ini adalah sindiran dari Allah s.w.t.&lt;br /&gt;Iman-kufur dalam Islam jelas konsekuensinya, tidak kabur. Karena jika ada iman, maka akan ada kufur. Jika ada kebenaran maka ada kesesatan. Tidak mungkin semua agama itu “benar” atau seluruhnya “salah”. Ini justru merancukan konsep agama dan ajarannya. Dengan sangat gamblang, Allah s.w.t. menjelaskan bahwa siapa yang secara “lapang dada” kufur (menjadi kafir), maka ia akan mendapat murka Allah dan mendapat azab yang pedih (Qs. Al-Nahl [16]: 106). Mereka itulah yang menurut Allah: (1) lebih mencintai dunia daripada akhirat; (2) dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya, sehingga menjadi lalai (ghafil); (3) dan di akhirat merugi (Qs. Al-Nahl [16]: 107-109). Jika kekufuran itu “relatif”, maka Allah akan menjadikan konsekuensinya juga “relatif”, tidak mutlak seperti yang kita lihat di atas.&lt;br /&gt;Masalah “iman-kufur” tidak sesederhana yang dikemukakan oleh kaum Sepilis (penganut sekularisme, pluralisme dan liberalisme, red). Apa yang mereka kemukakan adalah ‘kulit-kulit’ konsep iman. Maka wajar jika hasilnya relatif. Maka ketika ada zikir ‘Anjinghu Akbar’, dalam pandangan mereka tidak bermasalah. Karena itu adalah lisan, bukan hati, katanya. Bisa jadi hatinya penuh dengan keimanan kepada Allah s.w.t.&lt;br /&gt;Ini bisa dibalikkan dengan: bagaimana jika hati pengucapnya penuh dengan ‘Anjinghu Akbar’? Karena menurut Imam al-Biqa’i –ketika menjelaskan surat al-Nahl di atas—, hakikat iman-kufur itu berkaitan dengan hati, bukan lisan. Lisan hanya sekadar pengekspresi (mu’abbir) dan penerjemah serta pengenal (tarjuman mu’arrif) apa yang ada dalam hati...(Ibid., II: 314). Nah, jika yang keluar dari lisan itu bersih, indikasi bahwa hati itu bersih. Sebaliknya, jika setiap yang keluar dari lisan itu adalah kata-kata keji, kotor, hujatan, ini mengindikasikan bahwa sang hati ketika itu sedang ‘sakit kronis’.&lt;br /&gt;Maka, fenomena munculnya aliran-aliran sesat di Indonesia tidak harus melahirkan perdebatan panjang di kalangan umat Islam. Karena masalahnya jelas, masalah aqidah. Dan aqidah timbangannya adalah Al-Quran-Sunnah.&lt;br /&gt;Salamullah Lia Eden; Ahmadiyah –baik Qadyaniyah maupun Lahore—; al-Qiyadah al-Islamiyah Ahmad Moshaddeq, dsb adalah aliran-aliran sesat. Dan kesesatan ini adalah fixed price, tidak mungkin ditawar lagi apalagi direlatifkan. Kenapa? Karena jelas bertentangan dengan Al-Quran-Sunnah. Dan pada gilirannya, relativisme ini melahirkan ‘isme’ baru yang disebut dengan “bingungisme”. Sehingga kaum Sepilis yang menyatakan bahwa semua agama itu benar sebenarnya terjebak oleh self-relativism mereka sendiri. Bukankah ini membingungkan? www.hidayatullah.com&lt;br /&gt;* Penulis adalah staf pengajar di PP. Ar-Raudhatul Hasanah, Medan-Sumatera Utara. Peminat dan intens dalam Qur’anic-Hadith Studies &amp;amp; Christology. Sekarang sedang mengikuti Program Kaderisasi Ulama (PKU) di Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS) di Institut Studi Islam Darussalam, Gontor-Ponorogo, Jawa Timur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-1236027067794193635?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/1236027067794193635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=1236027067794193635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1236027067794193635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1236027067794193635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/11/menolak-relativisme-iman-dan-kufur.html' title='Menolak Relativisme “Iman” dan “Kufur”'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-6879929000944816192</id><published>2008-11-14T09:04:00.001+07:00</published><updated>2008-11-14T09:22:37.472+07:00</updated><title type='text'>Lupa Sarapan Dapat Mempengaruhi Atrofi Otak Anak</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SRzgtAcF_FI/AAAAAAAAABE/gl4R79LiaJk/s1600-h/KidsBreakfast.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268332727933205586" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 179px; CURSOR: hand; HEIGHT: 135px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SRzgtAcF_FI/AAAAAAAAABE/gl4R79LiaJk/s320/KidsBreakfast.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Otak besar seorang anak yang sedang berkembang mungkin akan mengalami penyusutan (atrofi), jika dia sering tidak sarapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayatullah.com--Apabila seorang anak sering tidak sarapan, maka otak besarnya yang sedang berkembang mungkin akan mengalami penyusutan (atrofi), sehingga mempengaruhi pertumbuhan intelegensia.&lt;br /&gt;Apakah anak Anda karena harus bangun pagi bersekolah sehingga sering tidak sarapan? Menurut laporan "Lian-he Zaobao" surat kabar terbitan Singapura, apabila seorang anak di pagi hari sering tidak sarapan, maka otak besarnya yang sedang tumbuh mungkin akan mengalami atrofi, sehingga mempengaruhi pertumbuhan intelegensia.&lt;br /&gt;Para peneliti bagian makanan dan gizi di Rumah Sakit Alexander telah meneliti pada rumah tangga di enam negara di Asia tentang apakah anak-anak sarapan di pagi hari, bagaimana pertumbuhan otak dan prestasi belajar mereka, alhasil ditemukan, anak didik yang tidak sarapan, selain konsentrasinya agak kurang, juga lamban dalam merespons.&lt;br /&gt;Para peneliti menunjukkan, "Apabila sarapan di pagi hari terabaikan dalam jangka panjang, otak anak dapat mengalami penyusutan, meskipun di kemudian hari telah memulihkan pola makan yang sehat, bergizi cukup, namun otak yang sudah menyusut tidak dapat pulih kembali, mereka akan berubah menjadi bodoh."&lt;br /&gt;Sedang para ahli Amerika juga telah melakukan penelitian terhadap anak didik, mereka yang datang ke sekolah, sebagian sarapan, sebagian lagi tidak, terungkap bahwa mereka yang tidak sarapan, responsnya terhadap angka agak lemah, sedangkan yang sarapan lebih sensitif. Teristimewa kalau jam pertama adalah pelajaran matematika, maka anak yang sarapan menunjukkan prestasi yang jauh lebih baik daripada yang tidak.&lt;br /&gt;Para peneliti menunjukkan bahwa penyampaian akan pentingnya sarapan oleh para guru yang secara langsung kepada anak didik adalah yang paling efektif.&lt;br /&gt;Rumah Sakit Alexander dan Lembaga Promosi Kesehatan Singapura melalui para pendidik menanamkan pengetahuan tersebut, dengan sedikit usaha yang dicurahkan ini telah memperoleh hasil yang besar.&lt;br /&gt;Selain itu, penanggung jawab penelitian tersebut juga menunjukkan peran orang tua terhadap kebiasaan makan anak, "Para orang tua hendaknya menanamkan kebiasaan makan bersama de-ngan anak-anak mereka, setidaknya pada saat makan pagi atau makan malam, selain dapat menanamkan kebiasaan baik bagi anak, juga dapat mempererat hubungan antara anak dan orang tua." [renmin/erb/&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" included="null"&gt;http://www.hidayatullah.com/&lt;/a&gt;]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-6879929000944816192?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/6879929000944816192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=6879929000944816192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6879929000944816192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6879929000944816192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/11/lupa-sarapan-dapat-mempengaruhi-atrofi.html' title='Lupa Sarapan Dapat Mempengaruhi Atrofi Otak Anak'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SRzgtAcF_FI/AAAAAAAAABE/gl4R79LiaJk/s72-c/KidsBreakfast.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-2848373591235056984</id><published>2008-11-04T10:18:00.000+07:00</published><updated>2008-11-04T10:20:55.128+07:00</updated><title type='text'>NASKAH PERANGKAT FORTOFOLIO SERTIFIKASI</title><content type='html'>&lt;a href="http://infopendidikankita.blogspot.com/2008/02/naskah-perangkat-fortofolio-sertifikasi.html"&gt;NASKAH PERANGKAT FORTOFOLIO SERTIFIKASI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian dan FungsiPortofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalam jabatan) adalah untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik.Portofolio juga berfungsi sebagai: (1) wahana guru untuk menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kerjanya yang meliputi produktivitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan pendukung; (2) informasi/data dalam memberikan pertimbangan tingkat kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan; (3) dasar menentukan kelulusan seorang guru yang mengikuti sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidikan atau belum); dan (4) dasar memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan guru.B. Komponen PortofolioSesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi:1. kualifikasi akademik, 2. pendidikan dan pelatihan, 3. pengalaman mengajar, 4. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, 5. penilaian dari atasan dan pengawas, 6. prestasi akademik, 7. karya pengembangan profesi, 8. keikutsertaan dalam forum ilmiah, 9. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan10. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelar (S1, S2, atau S3) maupun nongelar (D4 atau Post Graduate diploma), baik di dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini dapat berupa ijazah atau sertifikat diploma.Pendidikan dan Pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pengembangan dan/atau peningkatan kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, baik pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari lembaga penyelenggara diklat.Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari pemerintah, dan/atau kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponen ini dapat berupa surat keputusan/surat keterangan yang sah dari lembaga yang berwenang.Perencanaan pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaan pembelajaran ini paling tidak memuat perumusan tujuan/kompetensi, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber/media pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian proses dan hasil belajar. Bukti fisik dari sub komponen ini berupa dokumen perencanaan pembelajaran (RP/RPP/SP/RPI) yang diketahui disahkan oleh atasan. Dokumen ini dinilai oleh asesor dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Buku II halaman 25 – 26. Khusus untuk guru bimbingan dan konseling, dokumen ini berupa program pelayanan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan. Program bimbingan dan konseling ini memuat: nama program, lingkup bidang (pendidikan/belajar, karier, pribadi, sosial, akhlak mulia/budi pekerti), yang di dalamnya berisi tujuan, materi kegiatan, strategi, instrumen dan media, waktu kegiatan, biaya, rencana evaluasi dan tindak lanjut. Bukti fisik dari sub komponen ini berupa dokumen program pelayanan bimbingan pendidikan/belajar, karier, pribadi, sosial, akhlak mulia/budi pekerti yang diketahui/disahkan oleh atasan. Dokumen ini dinilai oleh asesor dengan menggunakan format sebagaimana tercantum dalam Buku II halaman 27 – 29.Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas dan pembelajaran individual. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi), kegiatan inti (penguasaan materi, strategi pembelajaran, pemanfaatan media/sumber belajar, evaluasi, penggunaan bahasa), dan penutup (refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut). Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang dikelola oleh guru dengan format sebagaimana tercantum dalam Buku II halaman 30 – 32.Khusus untuk guru bimbingan dan konseling, komponen pelaksanaan pembelajaran yang dimaksud adalah kegiatan guru bimbingan dan konseling (konselor) dalam mengelola dan mengevaluasi pelayanan bimbingan dan konseling yang meliputi bidang pelayanan bimbingan pendidikan/belajar, karier, pribadi, sosial, akhlak mulia/budi pekerti. Jenis dokumen yang dilaporkan berupa: agenda kerja guru bimbingan dan konseling, daftar konseli (siswa), data kebutuhan dan permasalahan konseli, laporan bulanan, laboran semesteran/tahunan, aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling (pemahaman, pelayanan langsung, pelayanan tidak langsung) dan laboran hasil evaluasi program bimbingan dan konseling. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi rekaman/dokumen laporan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling yang disahkan oleh atasan. Dokumen ini dinilai oleh asesor dengan menggunakan format penilaian sebagaimana tercantum dalam Buku II halaman 33 – 35.Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadap kompetensi kepribadian dan sosial, yang meliputi aspek-aspek: ketaatan menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan, keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemamampuan menerima kritik dan saran, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama dengan menggunakan Format Penilaian Atasan sebagaimana tercantum pada Buku II halaman 36 – 37.Prestasi akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yang terkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan dari lembaga/panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi lomba dan karya akademik (juara lomba atau penemuan karya monumental di bidang pendidikan atau nonkependidikan), pembimbingan teman sejawat (instruktur, guru inti, tutor), dan pembimbingan siswa kegiatan ekstra kurikuler (pramuka, drumband, mading, karya ilmiah remaja-KIR, dan lain-lain). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.Karya pengembangan profesi yaitu suatu karya yang menunjukkan adanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru. Komponen ini meliputi buku yang dipublikasikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau nasional; artikel yang dimuat dalam media jurnal/majalah/buletin yang tidak terakreditasi, terakreditasi, dan internasional; menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN; modul/buku cetak lokal (kabupaten/kota) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1 (satu) semester; media/alat pembelajaran dalam bidangnya; laporan penelitian tindakan kelas (individu/kelompok); dan karya seni (patung, rupa, tari, lukis, sastra, dan lain-lain). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut.Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatan ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, atau internasional, baik sebagai pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dilampirkan berupa makalah dan sertifikat/piagam bagi nara sumber, dan sertifikat/piagam bagi peserta.Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial yaitu pengalaman guru menjadi pengurus organisasi kependidikan, organisasi sosial, dan/atau mendapat tugas tambahan. Pengurus organisasi di bidang kependidikan antara lain: pengurus Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS), Forum Kelompok Kerja Guru (FKKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI), Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), dan Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonensia (ISMaPI), dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pengurus organisasi sosial antara lain: ketua RT, ketua RW, ketua LMD/BPD, dan pembina kegiatan keagamaan. Mendapat tugas tambahan antara lain: kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua jurusan, kepala laboratorium, kepala bengkel, kepala studio, kepala klinik rehabilitasi, dan lain-lain. Bukti fisik yang dilampirkan adalah surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu, hasil, lokasi/geografis), kualitatif (komitmen, etos kerja), dan relevansi (dalam bidang/rumpun bidang), baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotokopi sertifikat, piagam, atau surat keterangan. C. Pengisian Istrumen Portofolio 1. Identitas guru peserta sertifikasi. Identitas guru peserta sertifikasi, meliputi: nama (lengkap dengan gelar akadmeik), nomor peserta, NIP/NIK, pangkat/golongan, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, pendidikan terakhir, akta mengajar, sekolah tempat tugas (nama, alamat, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nomor telepon, e-mail, nomor statistik sekolah), guru matapelajaran/guru kelas, dan beban mengajar perminggu. Pangkat dan golongan bagi guru non-PNS mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Halaman identitas ini ditandatangani oleh penyusun dan disahkan oleh Kepala Sekoah dan Pengawas Pendidikan setelah portofolio selesai disusun.2. Daftar isi. Peserta sertifikasi perlu melengkapi dokumen portofolio dengan daftar isi agar memudahkan tim penilai (asesor) dalam melaksanakan tugasnya. Daftar isi ini menjelaskan tentang nama komponen dan di halaman berapa komponen tersebut disusun.3. Dokumen portofolio. Dokumen portofolio ini memuat sepuluh komponen portofolio yang di dalam instrumen ditampilkan dalam bentuk tabel. Peserta sertifikasi diminta untuk mengisi tabel tersebut sesuai dengan pengalaman dan hasil karya yang dimiliki secara jujur dan bertanggungjawab. Peserta juga diminta melampirkan bukti-bukti fisik berupa dokumen dan/atau hasil karya sesuai dengan yang dituliskan dalam tabel. Untuk dokumen-dokumen seperti sertifikat/ piagam/surat keterangan dapat berupa foto kopi dokumen-dokumen tersebut yang telah dilegalisasi oleh atasan. Untuk dokumen foto kopi ijazah/akta mengajar harus dilegalisasi oleh perguruan tinggi yang mengelaurkannya atau oleh Direkktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk ijazah luar negeri.4. Penutup. Komponen penutup ini berisi pernyataan dari penyusun dan pemilik dokumen yang memuat tentang jaminan keaslian dan tidak melanggar kode etik dalam membuat dan atau mendapatkannya. Di samping itu, pernyataan juga berisi kesiapan menerima sanksi atas pelanggaran yang terkait dengan hak cipta, apabila ditemukan atau di kemudian hari ditemukan bukti terjadinya pelanggaran.D. Penyusunan Portofolio Bukti fisik atau dokumen disusun dengan urutan sebagai berikut. 1. Halaman sampul2. Daftar isi 3. Instrumen portofolio, yang meliputi: (a) identitas peserta dan pengesahan, dan (b) komponen portofolio yang telah diisi.4. Bukti fisik atau dokumen portofolio, yang meliputi komponen sebagai berikut.a. Kualifikasi Akademik b. Pendidikan dan Pelatihan c. Pengalaman Mengajar d. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran e. Penilaian dari Atasan dan Pengawas f. Prestasi Akademik g. Karya Pengembangan Profesi h. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah i. Pengalaman Menjadi Pengurus Organisasi di Bidang Kependidikan dan Sosial j. Penghargaan yang Relevan dengan Bidang Ppendidikan Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan portofolio adalah sebagai berikut.1. Setiap bukti fisik hanya boleh digunakan untuk satu komponen portofolio.2. Setiap bukti diberi kode di pojok kanan atas, sesuai dengan pernomoran pada instrumen portofolio (contoh terlampir).3. Setiap pergantian komponen portofolio diberi kertas berwarna sebagai pembatas 4. Dokumen portofolio dibendel (dijilid) dan dibuat rangkap dua.Lampiran 1: Contoh Sampul/Cover Dokumen Portofolio DOKUMEN PORTOFOLIODisusunOleh:(NAMA GURU)(NAMA SEKOLAH)(KABUPATEN/KOTA)(PROVINSI)2007Lampiran 2: Contoh Daftar IsiDAFTAR ISIHalamanDAFTAR ISI ....................................................................................INSTRUMEN PORTOFOLIO YANG TELAH DIISI ..................................1. Halaman Identitas dan Pengesahan .............................................2. Komponen Portofolio ..................................................................BUKTI FISIK (DOKUMEN PORTOFOLIO) ...........................................1. Kualifikasi Akademik ..................................................................2. Pendidikan dan Pelatihan ...........................................................3. Pengalaman Mengajar ...............................................................4. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran ..............................5. Penilaian dari Atasan dan Pengawas ...........................................6. Prestasi Akademik .....................................................................7. Karya Pengembangan Profesi .....................................................8. Keikutsertaan dalam Forum Ilmiah .............................................9. Pengalaman Menjadi Pengurus Organisasi di Bidang Kependidikan dan Sosial ..................................................................................10. Penghargaan yang Relevan dengan Bidang Pendidikan ............... 1223........................... ......Lampiran 3: Contoh Pemberian Kode Dokumen Portofolio.Contoh 1:1. Kualifikasi akademikTuliskan riwayat pendidikan Bapak/Ibu pada Tabel di bawah ini.NO. JENJANG PERG. TINGGI FAKULTAS JURUSAN/ PRODI TAHUN LULUS SKOR(diisi penilai)a. D4 b. S1 Universitas Negeri Yogyakarta FMIPA Pendidikan Matematika 1999 c. Post Grad. Diploma d. S2 Universitas Negeri Malang PPs Pendidikan Matematika 2006 e. S3 Foto kopi ijazah S1 diberi kode: 1.b dan pada Ijazah S2 diberi kode: 1.dContoh 2:10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikana. PenghargaanApabila bapak/Ibu pernah menerima penghargaan di bidang pendidikan, isilah tabel berikut ini. NO. JENIS PENGHARGAAN PEMBERI PENGHARGAAN TINGKAT *) TAHUN SKOR(diisi penilai)1) Satya Lencana Kesetiaan 10 Tahun Presiden RI Nasional 1993 2) Guru Teladan Bupati Bantul DIY Kabupaen 1997 3) Dst. Piagam Satya Lencana Kesetiaan 10 Tahun diberi kode: 10.a.1) dan pada Piagam/Sertfikat/Surat Keputusan menjadi Guru Berprestasi tingkat kabupaten diberi kode: 10.a.2)BUKU IIINSTRUMEN PORTOFOLIO SERTIFIKASI GURU DALAM JABATANDIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGIDANDIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKANDEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL2007IDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp. Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Mata Pelajaran/Guru Kelas TK/TKLB/SD/SDLB : 11. Beban Mengajar per Minggu : Jam*)Coret yang tidak perlu.........................., ......................... 2007Mengetahui: Penyusun,Pengawas Pendidikan,...............................................................................................................................NIPKepala Sekolah,.................................................................................................................................NIP.........................................NIP.KOMPONEN PORTOFOLIO1. Kualifikasi akademikTuliskan riwayat pendidikan tinggi Bapak/Ibu pada tabel di bawah ini.NO. JENJANG PERG. TINGGI FAKULTAS JURUSAN/ PRODI TAHUN LULUS SKOR(diisi penilai)a. D4 b. S1 c. Post. Grad. Diploma d. S2 e. S3 Catatan: 2. Jika mempunyai S1, D4, S2 atau S3 lebih dari satu agar tuliskan semua3. Lampirkan foto kopi ijazah yang tertulis pada tabel tersebut yang telah dilegalisasi oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan ijazah atau oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk ijazah luar negeri. Dalam kasus tertentu seorang guru bertugas di daerah yang jauh (di luar provinsi) dari tempat asal perguruan tinggi, dapat dilegalisasi oleh kepala sekolah dan kepala dinas kabupaten/kota. 2. Pendidikan dan Pelatihan Tuliskan pengalaman mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) Bapak/Ibu pada tabel berikut.NO. NAMA / JENIS DIKLAT TEMPAT WAKTU PELAKSANAAN(...... jam) PENYELENG-GARA SKOR(diisi penilai)a. b. c. d. e. f. g. h. i. Dst. Catatan:Lampirkan sertifikat, piagam, atau surat keterangan yang tertulis dalam tabel yang telah dilegalisasi oleh atasan langsung.3. Pengalaman Mengajar Tuliskan pengalaman mengajar Bapak/Ibu pada tabel berikut ini.NO. NAMA SEKOLAH BIDANG STUDI / GURU KELAS LAMA MENGAJAR(mulai tahun ...... s.d. tahun ........)a. b. c. d. e. f. g. h. Dst. Catatan: Lampirkan foto kopi SK pengangkatan menjadi guru baik PNS maupun non PNS yang telah dilegalisasi oleh atasan langsung.Kumulatif lama mengajar: ............................. tahun; skor: .......... (diisi penilai)Khusus untuk Guru Bimbingan dan Konseling Tuliskan pengalaman memberikan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Bapak/Ibu pada tabel berikut ini.NO. NAMA SEKOLAH LAMA MEMBERIKAN PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING(mulai tahun ...... s.d. tahun ........)a. b. c. d. e. f. g. h. Dst. Catatan: Lampirkan foto kopi SK pengangkatan menjadi guru baik PNS maupun non PNS yang telah dilegalisasi oleh atasan langsung.Kumulatif lama mengajar: ............................. tahun; skor: .......... (diisi penilai)4. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajarana. Perencanaan Pembelajaran Tuliskan lima jenis RPP/RP/SP/RPI terbaik yang pernah Bapak/Ibu buat dari semester dan materi yang berbeda.NO MATA PELAJARAN MATERI/KOMPETENSI SEMESTER TAHUN SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) Rata-rata skor ...........Catatan: Lampirkan bukti lima RPP/RP/SP yang tertulis dalam tabelKhusus untuk Guru Bimbingan dan Konselinga. Perencanaan Program Pelayanan Bimbingan dan KonselingTuliskan empat jenis PPBK (Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling) terbaik yang pernah Bapak/Ibu buat dari semester dan bidang pelayanan yang berbeda.NO JENIS PROGRAM BIDANG PELAYANAN SEMESTER TAHUN SKOR(diisi penilai)1) Pendidikan/Belajar 2) Karier 3) Pribadi 4) Sosial 5) Akhlak Mulia/Budipekerti Rata-rata skor ...........Catatan: Lampirkan bukti empat PPBK yang tertulis dalam tabelb. Pelaksanaan Pembelajaran Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas tentang kinerja Bapak/Ibu dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas (instrumen penilaian terlampir). Lampirkan hasil penilaian kepala sekolah dan/atau pengawas tentang kinerja pelaksanaan pembelajaran Bapak/Ibu sebagaimana dimaksud di atas dalam amplop tertutup.Skor pelaksanaan pembelajaran (diambil dari amplop tertutup): ............... (diisi penilai)Khusus untuk Guru Bimbingan dan Konselingb. Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan KonselingBukti fisik yang dilampirkan berupa rekaman/dokumen pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling yang diketahui oleh koordinator bimbingan dan konseling dan atasan. Rambu-rambu format laporan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling sebagaimana yang berlaku di wilayah/sekolah tempat bekerja. Komponen yang dinilai meliputi: agenda kerja guru bimbingan dan konseling, daftar konseli (siswa), data kebutuhan dan permasalahan konseli, laporan bulanan, laboran semesteran/tahunan, aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling (pemahaman, pelayanan langsung, pelayanan tidak langsung) dan laboran hasil evaluasi program bimbingan dan konseling.5. Penilaian dari atasan dan pengawas Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian dari atasan dan pengawas tentang kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial Bapak/Ibu dengan menggunalan Format Penilaian Atasan (format terlampir). Lampirkan hasil penilaian dari atasan sebagaimana dimaksud di atas dalam amplop tertutup.Skor penilaian atasan dan pengawas (diambil dari amplop tertutup): ........ (diisi penilai)6. Prestasi Akademika. Lomba dan karya akademikTuliskan prestasi Bapak/Ibu mengikuti lomba dan karya akademik (jika ada) yang meliputi: nama lomba/karya akademik, waktu pelaksanaan, tingkat (kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, internasional), dan penyelenggara pada tabel berikut.NO NAMA LOMBA/KEJUARAANWAKTU PELAKSANAAN TINGKAT PENYE-LENGGARA SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) Dst. Catatan:Lampirkan foto kopi sertfikat/piagam/surat keterangan kegiatan yang tertulis di atas yang telah dilegalisasi oleh atasan.b. Pembimbingan teman sejawatTuliskan pengalaman Bapak/Ibu menjadi Instruktur/Guru inti/Tutor/Pemandu (jika pernah) pada tabel berikut.NO. MATA PELAJARAN/BIDANG STUDI INSTRUKTUR/GURU INTI/TUTOR /PEMANDU TEMPAT SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) Dst. Catatan: Lampirkan foto kopi SK/Surat Tugas dari Pejabat yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan. c. Pembimbingan siswa 1) Apabila Bapak/Ibu pernah menjadi pembimbing siswa sampai mendapatkan penghargaan baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional, maupun internasional dalam kegiatan akademik dan/atau prestasi, isilah tabel berikut.NO. NAMA KEJUARAAN TINGKAT TEMPAT DAN WAKTU SKOR(diisi penilai)a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) Dst. Catatan:Lampirkan foto kopi sertifikat/piagam kejuaraan siswa yang dibimbing dan SK/surat tugas dari pejabat yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan.2) Apabila Bapak/Ibu pernah menjadi pembimbing siswa (tidak mencapai juara) dalam kegiatan akademik dan/atau prestasi, isilah tabel berikut.NO. NAMA KEGIATAN TEMPAT LAMA (WAKTU PEMBIMBINGAN) SKOR(diisi penilai)a) b) c) d) e) f) g) h) i) Dst Catatan:Lampirkan foto kopi surat keputusan/surat keterangan/surat tugas dari pejabat yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan.7. Karya Pengembangan Profesia. Karya TulisApabila Bapak/Ibu mempunyai karya tulis yang berupa buku, artikel (jurnal/ majalah/koran), modul, dan buku dicetak lokal, tuliskan judul buku dan keterangan lainnya pada tabel berikut ini.NO. JUDUL JENIS *) PENERBIT TAHUN TERBIT SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Dst. Catatan:*)Jenis pada tabel di atas diisi buku, artikel (jurnal/majalah/koran), modul, atau buku dicetak lokalLampirkan bukti fisik yang relevanb. PenelitianApabila Bapak/Ibu pernah melakukan penelitian tindakan kelas atau penelitian yang mendukung peningkatan pembelajaran dan atau profesional guru, tuliskan judul penelitian dan keterangan lainnya pada tabel berikut.NO. JUDUL TAHUN SUMBER DANA STATUS (KETUA/ANGGOTA) SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Dst. Catatan:Lampirkan bukti fisik yang relevanc. Reviewer buku dan/atau penulis soal EBTANAS/UNApabila Bapak/Ibu pernah menjadi reviewer buku dan/atau penulis soal EBTANAS/UN, isilah tabel berikut.NO. NAMA KEGIATAN TAHUN SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Dst. Catatan:Lampirkan foto kopi surat keputusan/surat keterangan/surat tugas dari pihak yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan.d. Media dan Alat PembelajaranApabila Bapak/Ibu pernah membuat media atau alat pembelajaran, tuliskan jenis media/alat dan keterangan lainnya pada tabel berikut.NO. JENIS MEDIA/ALAT TAHUN SUMBER DANA STATUS (KETUA/ANGGOTA) SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Dst. Catatan:Lampirkan bukti fisik yang relevan, misalnya: foto, manual, deskripsi, surat keterangan dari kepala sekolahe. Karya teknologi/seni (TTG, patung, rupa, tari, lukis, sastra, dll)Apabila Bapak/Ibu pernah membuat karya teknologi/seni yang berupa teknologi tepat guna, patung/rupa/lukis/sastra dll, tuliskan nama dan tahun karya tersebut dalam tabel berikut.NO. NAMA KARYA SENI TAHUN DESKRIPSI KARYA(PENJELASAN SINGKAT TENTANG KARYA SENI TERSEBUT) SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Dst. Catatan:Lampirkan bukti fisik yang relevan, misalnya: foto, manual, deskripsi, surat keterangan dari kepala sekolah8. Keikutsertaan dalam forum ilmiahJika Sdr/i pernah mengikuti forum ilmiah tuliskan judul dan keterangan lainnya pada tabel berikut iniNO. JENIS KEGIATAN TAHUN PERAN *) TINGKAT(Inter/Nas/Lokal) SKOR(diisi penilai)a. b. c. d. e. f. g. h. i. Dst Catatan: *) Kolom peran diisi pemakalah, atau peserta sesuai sertifikatLampirkan foto kopi sertifikat/piagam dan makalah apabila menjadi nara sumber, yang telah dilegalisasi oleh atasan.9. Pengalaman menjadi pengurus organisasi di bidang kependidikan dan sosiala. Pengalaman OrganisasiApabila Bapak/Ibu memiliki pengalaman menjadi pengurus suatu organisasi kependidikan atau organisasi sosial, tuliskan nama organisasinya dan keterangan lainnya pada tabel berikut ini.NO. NAMA ORGANISASI TAHUN JABATAN TINGKAT *) SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Dst Catatan:*) Kolom tingkat diisi: kecamatan, kabupaten/kota, nasional, atau internasional Lampirkan foto kopi surat keputusan/surat keterangan dari pihak yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan.b. Pengalaman Mendapat Tugas Tambahan Apabila Bapak/Ibu pernah mendapat tugas tambahan antara lain sebagai kepala/wakil kepala sekolah/kepala bengkel/kepala lab/pembina kegiatan ekstra kurikuler, isilah tabel berikut ini.NO. JABATAN TH ---- S/D TH ----- NAMA SEKOLAH SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Dst. Catatan:Lampirkan foto kopi surat keputusan/surat keterangan/bukti yang relevan dari pihak yang berwenang yang telah dilegalisasi oleh atasan.10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikana. PenghargaanApabila bapak/Ibu pernah menerima penghargaan di bidang pendidikan, isilah tabel berikut ini. NO. JENIS PENGHARGAAN PEMBERI PENGHARGAAN TINGKAT *) TAHUN SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) Dst. Catatan:*)Kolom tingkat diisi: kecamatan, kabupaten/kota, nasional, atau internasional Lampirkan sertifikat/piagam/surat keterangan yang tertulis pada tabel di atas yang telah dilegalisasi oleh atasan.b. Penugasan Di Daerah KhususApabila Babak/Ibu pernah ditugaskan sebagai guru di daerah khusus (daerah terpencil/tertinggal/ bencana/konflik/perbatasan), isilah tabel berikut.NO. LOKASI JENIS DAERAH KHUSUS LAMA BERTUGAS (MULAI TH ..... s/d TH .....) SKOR(diisi penilai)1) 2) 3) 4) 5) 6) Dst. Catatan:Lampirkan foto kopi SK penugasan yang telah dilegalisasi oleh atasan.Dengan ini saya menyatakan bahwa pernyataan dan dokumen di dalam portofolio ini benar-benar hasil karya saya sendiri, dan jika di kemudian hari ternyata pernyataan dan dokumen saya tidak benar, saya bersedia menerima sanksi dan dampak hukum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.…………………., ………….. 2007Peserta sertifikasi,(…………………………..)INSTRUMEN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATANPenilaianRencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)Oleh Penilai (Asesor)IDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp. Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Mata Pelajaran /Guru Kelas SD : 11. Beban Mengajar per Minggu : Jam*)Coret yang tidak perluLEMBAR PENILAIANPetunjukBerilah skor pada butir-butir perencanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.1 = sangat tidak baik2 = tidak baik3 = kurang baik4 = baik5 = sangat baikNo. Aspek yang dinilai Skor1. Kejelasan perumusan tujuan pembelajaran (tidak menimbul kan penafsiran ganda dan mengandung perilaku hasil belajar) 1 2 3 4 52. Pemilihan materi ajar (sesuai dengan tujuan dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 53. Pengorganisasian materi ajar (keruntutan, sistematika materi dan kesesuaian dengan alokasi waktu) 1 2 3 4 54. Pemilihan sumber/media pemblajaran (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik peserta didik) 1 2 3 4 55. Kejelasan skenario pembelajaran (langkah-langkah kegiatan pembelajaran : awal, inti, dan penutup) 1 2 3 4 56. Kerincian skenario pembelajaran (setiap langkah tercermin strategi/metode dan alokasi waktu pada setiap tahap) 1 2 3 4 57. Kesesuaian teknik dengan tujuan pembelajaran 1 2 3 4 58. Kekengkapan instrumen (soal, kunci, pedoman penskoran) 1 2 3 4 5Skor Total ..............................., .................Penilai,(....................................)NIP/NIKINSTRUMEN SERTIFIKASI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (KONSELOR) DALAM JABATANPenilaianPerencanaan Program Pelayanan Bimbingan dan KonselingOleh Penilai (Asesor)IDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah/Madrasah*) Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp /Faksimili Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Guru Mata Pelajaran/Guru Kelas/Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) : 11. Rasio Guru Bimbingan dan Konseling dengan Siswa : 1: ...... siswa 12. Beban layanan Bimbingan dan Konseling per minggu: a. Klasikal b. Layanan Bimbingan dan Konseling lainnya :: .... jam.... jam*)Coret yang tidak perluLEMBAR PENILAIANPetunjukBerilah skor pada butir-butir perencanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.1 = sangat tidak baik2 = tidak baik3 = kurang baik4 = baik5 = sangat baikNo. Aspek yang dinilai Skor1. Kejelasan perumusan tujuan pelayanan bimbingan dan konseling (tidak menimbulkan penafsiran ganda dan mengarah ke kemandirian konseli) 1 2 3 4 52. Pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan bimbingan dan konseling (sesuai dengan tujuan dan karakteristik konseli) 1 2 3 4 53. Pemilihan instrumen dan media pelayanan bimbingan dan konseling (sesuai dengan tujuan, materi, dan karakteristik konseli) 1 2 3 4 54. Pemilihan strategi pelayanan bimbingan dan konseling (ketepatan skenario pelayanan bimbingan dan konseling: langkah-langkahnya fleksibel) 1 2 3 4 55. Waktu dan biaya (ketepatan dan kecukupan waktu dan biaya) 1 2 3 4 56. Rencana evaluasi dan tindak lanjut (tindaklanjutnya sejalan dengan hasil evaluasi dan mampu mencapai tujuan) 1 2 3 4 57. Program semesteran bimbingan dan konseling (sistematis dan lengkap) 1 2 3 4 58. Program tahunan bimbingan dan konseling (sistematis dan lengkap) 1 2 3 4 5Skor Total .......Petunjuk skoring setiap perencanaan PPBK:1. Skor mentah = Tentukan skor setiap butir (Sm)2. Skor tertimbang = Skor butir kalikan dengan bobot skor (St)3. Skor akhir = Jumlah skor tertimbang dibagi 40 (Sa)........................, .................Penilai,(....................................)NIP/NIKINSTRUMEN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATANPenilaian Pelaksanaan Pembelajaran oleh Kepala Sekolah dan PengawasIDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp. Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Mata Pelajaran /Guru Kelas SD : 11. Beban Mengajar per Minggu : Jam*)Coret yang tidak perluLEMBAR PENILAIANPetunjukBerilah skor pada butir-butir pelaksanaan pembelajaran dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.1 = sangat tidak baik2 = tidak baik3 = kurang baik4 = baik5 = sangat baikNO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI SKORI PRAPEMBELAJARAN 1. Mempersiapkan siswa untuk belajar 1 2 3 4 52. Melakukan kegiatan apersepsi 1 2 3 4 5II KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN A. Penguasaan materi pelajaran 3. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran 1 2 3 4 54. Mengaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan 1 2 3 4 55. Menyampaikan materi dengan jelas, sesuai dengan hierarki belajar dan karakteristik siswa 1 2 3 4 56. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan 1 2 3 4 5B. Pendekatan/strategi pembelajaran 7. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan karakaterstik siswa 1 2 3 4 58. Melaksanakan pembelajaran secara runtut 1 2 3 4 59. Menguasai kelas 1 2 3 4 510. Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 1 2 3 4 511. Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif 1 2 3 4 512. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan 1 2 3 4 5C. Pemanfaatan sumber belajar /media pembelajaran 13. Menggunakan media secara efektif dan efisien 1 2 3 4 514. Menghasilkan pesan yang menarik 1 2 3 4 515. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media 1 2 3 4 5D. Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa 16. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 1 2 3 4 517. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa 1 2 3 4 518. Menumbuhkan keceriaan dan antusisme siswa dalam belajar 1 2 3 4 5E. Penilaian proses dan hasil belajar 19. Memantau kemajuan belajar selama proses 1 2 3 4 520. Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi (tujuan) 1 2 3 4 5F. Penggunaan bahasa 21. Menggunakan bahasa lisan dan tulis secara jelas, baik, dan benar 1 2 3 4 522. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai 1 2 3 4 5III PENUTUP 23. Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan siswa 1 2 3 4 524. Melaksanakan tindak lanjut dengan memberikan arahan, atau kegiatan, atau tugas sebagai bagian remidi/pengayaan 1 2 3 4 5Total Skor Dengan ini saya menyatakan bahwa penilaian yang saya lakukan sesuai dengan kondisi peserta yang sebenarnya, dan apabila di kemudian hari ternyata pernyataan saya tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.Penilai,(....................................)NIP/NIK ........................, .................Penilai,(....................................)NIP/NIKINSTRUMEN SERTIFIKASI GURU BIMBINGAN DAN KONSELING (KONSELOR) DALAM JABATANPenilaianPelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan KonselingOleh Penilai (Asesor)IDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah/Madrasah*) Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp /Faksimili Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Guru Mata Pelajaran/Guru Kelas/Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) : 11. Rasio Guru Bimbingan dan Konseling dengan Siswa : 1: ...... siswa 12. Beban layanan Bimbingan dan Konseling per minggu: a. Klasikal b. Layanan Bimbingan dan Konseling lainnya :: .... jam.... jam*)Coret yang tidak perluLEMBAR PENILAIANPetunjukBerilah skor pada butir-butir pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.1 = sangat tidak baik2 = tidak baik3 = kurang baik4 = baik5 = sangat baikNO INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI SKOR1. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) (lengkap, relevan) 1 2 3 4 5 2. Daftar konseli (siswa) (jumlah, peta permasalahan, waktu pelayanan, jenis pelayanan) 1 2 3 4 53. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 1 2 3 4 5a. Hasil amatan langsung konselor 1 2 3 4 5b. Hasil penggunaan instrumen (tes dan non tes) 1 2 3 4 54. Laporan bulanan (sistemantis, lengkap) 1 2 3 4 55. Laporan semesteran/tahunan (sistemantis, lengkap) 1 2 3 4 56. Aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling a. Pemahaman 1) Catatan anekdot (ada, lengkap, bermakna) 1 2 3 4 52) Kunjungan rumah (prosedural, lengkap, bermakna) 1 2 3 4 53) Konferensi kasus (prosedural, lengkap, bermakna) 1 2 3 4 54) Sosiometri (ada sosiogram, analisis, dan tindak lanjut) 1 2 3 4 5b. Pelayanan Langsung 1) Konseling individual 1 2 3 4 52) Konseling kelompok 1 2 3 4 53) Konsultasi 1 2 3 4 54) Bimbingan kelompok/klasikal*): ....... (isi sesuai berkas) 1 2 3 4 55) Bimbingan kelompok/klasikal*): ....... (isi sesuai berkas) 1 2 3 4 56) Bimbingan kelompok/klasikal*): ....... (isi sesuai berkas) 1 2 3 4 57) Bimbingan kelompok/klasikal*): ....... (isi sesuai berkas) 1 2 3 4 58) Referal 1 2 3 4 5c. Pelayanan Tidak Langsung (pilih tiga dari pelayanan sebagai berikut: papan bimbingan, kotak masalah, bibliokonseling, audiovisual, audio, media cetak: liflet, buku saku) 1) ............................................ (lengkap dan bermakna) 1 2 3 4 52) ............................................ (lengkap dan bermakna) 1 2 3 4 53) ............................................ (lengkap dan bermakna) 1 2 3 4 57 Laporan hasil evaluasi program bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya a. Evaluasi proses dan produk (lengkap, kesesuaian antar komponen dalam program) 1 2 3 4 5b. Analisis dan pengambilan keputusan (tepat dan akurat) 1 2 3 4 5c. Tindak lanjut (jelas, realistik, tepat) 1 2 3 4 5Total Skor 120*) Kegiatan bimbingan kelompok/klasikal yang diisikan untuk dinilai dalam bidang pelayanan yang berbeda. Dengan ini saya menyatakan bahwa penilaian yang saya lakukan sesuai dengan kondisi peserta yang sebenarnya, dan apabila di kemudian hari ternyata pernyataan saya tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.Penilai,(....................................)NIP/NIK ........................, .................Penilai,(....................................)NIP/NIKINSTRUMEN SERTIFIKASI GURU DALAM JABATANPenilaian dari Atasan dan PengawasIDENTITAS PESERTA1. Nama (lengkap dengan gelar akademik) : 2. Nomor Peserta : 3. NIP/NIK : 4. Pangkat/Golongan : 5. Jenis Kelamin : L/P *)6. Tempat, tgl lahir : 7. Pendidikan Terakhir : 8. Akta Mengajar : Memiliki/Tidak Memiliki*)9. Sekolah Tempat Tugas a. Nama : b. Alamat Sekolah : c. Kecamatan : d. Kabupaten/Kota : e. Provinsi : f. No. Telp. Sekolah : g. Alamat e-mail : h. Nomor Statistik Sekolah : 10. Mata Pelajaran /Guru Kelas SD : 11. Beban Mengajar per Minggu : Jam*)Coret yang tidak perluLEMBAR PENILAIANPetunjukBerilah penilaian kompetensi kepribadian dan social guru, dengan cara melingkari angka pada kolom skor (1, 2, 3, 4, 5) sesuai dengan kriteria sebagai berikut.1 = sangat tidak baik/sangat rendah2 = tidak baik/rendah 3 = kurang baik/kurang tinggi 4 = baik/tinggi5 = sangat baik/sangat tingiNo. Aspek yang dinilai Skor1. Ketaatan dalam menjalankan ajaran agama (rajin menjalankan ajaran agama yang dianut, misal: orang muslim rajin menjalankan sholat, orang Kristiani rajin ke gereja, dll.) 1 2 3 4 52. Tanggung jawab (sanggup menyelesaikan tugas sesuai dengan ketentuan, misal: melaksanakan pembelajaran dengan baik dan sesuai jadwal) 1 2 3 4 53. Kejujuran (menyampaikan sesuatu apa adanya, misal: ijin tidak masuk atau tidak mengajar dengan alasan yang sebenarnya) 1 2 3 4 54. Kedisiplinan (kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku, misal mulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran sesuai dengan jadwal) 1 2 3 4 55. Keteladanan (menjadi contoh atau rujukan dalam sikap dan perilaku bagi orang lain, misal: menjadi teladan bagi sejewat dan peserta didik dalam tutur kata, berpakaian, dll.) 1 2 3 4 56. Etos kerja (komitmen dan semangat dalam melaksanakan tugas, misal yang memiliki etos kerja tinggi, bersemangat melaksanakan dan mentaati kaidah-kaidah dalam tugas) 1 2 3 4 57. Inovasi dan Kreativitas (kemampuan dan kemauan untuk mengadakan pembaharuan melalui olah pikirnya, misal selalu berusaha menggunakan alam sekitar dan bahan-bahan yang ada di sekitarnya dalam proses pembelajaran di kelas) 1 2 3 4 58. Kemampuan menerima kritik dan saran (perilaku dalam merespon kritik dan saran dari orang lain, misal mendapat kritik tidak marah dan akomodatif terhadap saran orang lain) 1 2 3 4 59. Kemampuan berkomunikasi (dapat menyampaikan ide-idenya dengan bahasa yang baik dan dapat dipahami oleh sasaran, misal: dalam keseharian dapat berkomunikasi secara baik dengan sejawat) 1 2 3 4 510. Kemampuan bekerjasama 1 2 3 4 5Skor Total ............Dengan ini saya menyatakan bahwa penilaian yang saya lakukan sesuai dengan kondisi peserta yang sebenarnya, dan apabila di kemudian hari ternyata pernyataan saya tidak benar, saya bersedia mempertanggungjawabkannya.Pengawas,(....................................)NIP/NIK ........................, .................Kepala Sekolah,(....................................)NIP/NIKBUKU IIIRUBRIK PENILAIAN PORTOFOLIO SERTIFIKASI GURU DALAM JABATANDIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGIDANDIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKANDEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL2007RUBRIK PENILAIAN PORTOFOLIO1. Kualifikasi akademikIjazah Relevansi SkorS1 / D4Kependidikan sesuai bidang studi (mapel)* 150Nonkependidikan sesuai bidang studi (mapel) mimiliki Akta Mengajar 150Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi (mapel)** 140Nonkependidikan sesuai bidang studi (mapel) 130Kependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi (mapel) 120Nonkependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi memiliki Akta Mengajar 120Nonkependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi 110Post Graduate Diploma Sesuai bidang studi 80Tidak sesuai 50S2 Kependidikan sesuai bidang studi (mapel) 175Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi (mapel) 160Nonkependidikan sesuai bidang studi (mapel) 160Kependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi 145Nonkependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi 130S3 Kependidikan sesuai bidang studi (mapel) 200Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi (mapel) 180Nonkependidikan sesuai bidang studi (mapel) 180Kependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi 160Nonkependidikan tidak sesuai bidang studi dan rumpun bidang studi 140Catatan:* Untuk mata pelajaran produktif di SMK, program keahlian analog dengan bidang studi (mapel)** Untuk mata pelajaran produktif di SMK, bidang keahlian analog dengan rumpun bidang studi S1, S2, atau S3 yang kedua dan seterusnya diperhitungkan dengan skor 25% dari skor yang ditetapkan dalam rubrik ini.Skor maksimal: jika memiliki S1, S2, dan S3 kependidikan yang relevan: 150 + 175 + 200 = 5252. Pendidikan dan Pelatihan Lama Diklat(Jam Pelatihan) Internasional Nasional Provinsi Kab/Kota KecamatanR TR R TR R TR R TR R TR&gt; 640 60 45 50 40 45 35 40 30 35 25481 – 640 55 40 45 35 40 30 35 25 30 20161 – 480 45 35 40 30 35 25 30 20 25 1581 – 160 40 30 35 25 30 20 25 15 20 1030 – 80 35 25 30 20 25 15 20 10 15 78 – 29 30 20 25 15 20 10 15 5 10 3Keterangan:R: relevan; materi diklat mendukung pelaksanaan tugas profesional guruTR: tidak relevan; materi diklat tidak mendukung pelaksanaan tugas profesional guru Skor maksimuml (taksiran): 2x pelatihan nasional relevan pola 170 jam, 2x propinsi relevan pola 120 jam, 4x kabupaten/kota relevan pola 20 jam = (2x40) + (2 x 30) + (4 x 15) = 200 3. Pengalaman MengajarMasa Kerja Guru Skor&gt; 25 tahun 16023 – 25 tahun 14520 – 22 tahun 13017 – 19 tahun 11514 – 16 tahun 10011 – 13 tahun 858 – 10 tahun 705 – 7 tahun 552 – 4 tahun 40Catatan: tugas belajar diperhitungkan dalam pengalaman mengajarSkor maksimum: 1604. Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajarana. Perencanaan Pembelajaran Mengumpulkan 5 buah RP/RPP/SP yang berbeda Aspek yang dinilai Skor maks1. Perumusan tujuan pembelajaran2. Pemilihan dan pengorganisasian materi ajar3. Pemilihan sumber /media pembelajaran4. Skenario atau kegiatan pembelajaran5. Penilaian hasil belajar 51051010Catatan: Lima RP/RPP/SP dinilai oleh asesor dengan menggunakan Instrumen Penilaian RPP dan dihitung skor reratanya.Skor maksimal: jika semua butir aspek mencapai skor maksimum: 40Khusus untuk Guru Bimbingan dan Konselinga. Perencanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) Aspek yang dinilai Bobot Skor 6. Perumusan tujuan pelayanan 7. Pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan 8. Pemilihan instrumen dan media 9. Strategi pelayanan 10. Waktu dan biaya 11. Rencana evaluasi dan tindak lanjut 488844Mengumpulkan program semesteran dan program tahunan 1. Program semesteran bimbingan dan konseling 2. Program tahunan bimbingan dan konseling 22Jumlah Skor 40Catatan: Kumpulkan empat dari lima buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang mencakup bidang (1) pendidikan/belajar, (2) karier, (3) pribadi, (4) sosial, (5) akhlak mulia/budi pekerti. Skor maksimal: jika semua butir aspek mencapai skor maksimum: 40b. Pelaksanaan Pembelajaran Mengumpulkan dokumen hasil penilaian oleh kepala sekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran Aspek yang dinilai Skor maks1. Prapembelajaran (pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi)2. Kegiatan inti:• penguasaan materi • strategi pembelajaran • pemanfaatan media/sumber belajar• evaluasi• penggunaan bahasa3. Penutup (refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut) 208020Skor maksimal: jika semua butir aspek mencapai skor maksimum: 120Khusus untuk Guru Bimbingan dan konselingb. Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling Laporan pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling Aspek yang dinilai Skor maksimal4. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 5. Daftar konseli (siswa) 6. Data kebutuhan dan permasalahan konseli7. Laporan bulanan8. Laporan semesteran/tahunan9. Aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling: a. Pemahaman (antara lain: sosiometri, kunjungan rumah, catatan anekdot, konferensi kasus. b. Pelayanan Langsung (antara lain: konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, bimbingan kelompok, bimbingan klasikal, referal c. Pelayanan tidak langsung (antara lain: papan bimbingan, kotak masalah, bibliokonseling, audiovisual, audio, media cetak: liflet, buku saku10. Laporan hasil evaluasi program, proses, dan produk bimbingan dan konseling, serta tindak lanjutnya 55105520401515120Skor maksimal: jika semua butir aspek mencapai skor maksimum: 1205. Penilaian dari atasan dan pengawas Bukti Aspek yang dinilai Skor maksDokumen hasil penilaian oleh atasan dan/atau pengawas tentang kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial 1. Ketaatan menjalankan ajaran agama2. Tanggung jawab3. Kejujuran4. Kedisiplinan 5. Keteladanan6. Etos kerja7. Inovasi dan kreativitas8. Kemampuan menerima kritik dan saran9. Kemampuan berkomunikasi10. Kemampuan bekerja sama 5555555555Jumlah 50Skor maksimum: jika semua butir aspek mencapai skor maksimum: 10 x 5 = 506. Prestasi Akademika. Lomba dan karya akademikPrestasi Tingkat* SkorBukti juara lomba akademik InternasionalNasionalProvinsiKabupaten/KotaKecamatan 6040302010Bukti menemukan karya monumental PendidikanNonpendidikan 6040* Kejuaraan diambil tingkat yang tertinggib. Pembimbingan kepada teman sejawat / siswaJenis Pembimbingan teman sejawat/siswa Skor Instruktur 40Guru Inti/Tutor/Pemandu 20Pembimbingan siswa dalam berbagai lomba/karya sampai meraih juaraTingkat Internasional : 40Tingkat Nasional : 25Tingkat Provinisi : 20Tingkat Kabupaten/Kota : 15 Tingkat Kecamatan : 10Pembimbngan siswa dalam berbagai lomba/karya tidak mencapai juara 5Skor maksimum (taksiran): 1x lomba akademik nasional, 1 x juara lokal, sebuah karya monumental bidang pendidikan, instruktur : 40 + 20 + 60 + 40 = 1607. Karya Pengembangan ProfesiJenis Dokumen / Karya Publikasi SkorRelevan Tidak relevana. Buku* Nasional 50 35Provinsi 40 25Kabupaten/Kota 30 15b. Artikel Jurnal Terakreditasi 25 20Jurnal Tdk Terakreditasi 10 8Majalah/koran nasional 10 8Majalah/koran local 5 3c. Menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN 2 per kegiatand. Modul/Diktat dicetak local (Kab/Kota) Minimal mencakup materi 1 semester, skor 20e. Media/Alat pelajaran Setiap membuat satu media/alat pelajaran diberi skor 5f. Laporan penelitian di bidang pendidikan Setiap satu laporan diberi skor 10Sebagai ketua 60% dan anggota 40%g. Karya teknologi/seni (TTG, patung, rupa, tari, lukis, sastra, dll) Setiap karya seni diberi skor 15 Catatan:*)Buku publikasi nasional adalah buku ber-ISBN dan ditetapkan oleh BSNPsebagai buku standar; publikasi provinsi adalah buku ber-ISBN; publikasikab/kota adalah buku yang tidak ber-ISBN.Skor maksimum (taksiran): 1 buku publikasi kabupaten/kota, 1 artikel dalam jurnal terakreditasi, 2 artikel dalam jurnal tidak terakreditasi, &amp;amp; 2 artikel di koran lokal: 30 + 25 + (2 x 10) + (2 x 5) =85 8. Keikutsertaan dalam forum ilmiahTingkat SkorPemakalah PesertaInternasional 50 10Nasional 40 8Provinsi 30 6Kabupaten/Kota 20 4Kecamatan 10 2Skor maksimal (taksiran): 1x peserta internasional, 1x pemakalah nasional, dan 3x peserta kabupaten/kota: 10 + 40 + (3 x 4) = 629. Pengalaman menjadi pengurus organisasi di bidang kependidikan dan sosiala. Pengurus organisasi di bidang kependidikan dan sosialTingkat Organisasi Skor per tahunKependidikan SosialInternasional 10 7 Nasional 7 5 Provinsi 5 4 Kabupaten/Kota 4 3 Kecamatan 3 2 Desa/Kelurahan 2 1b. Tugas Tambahan Tugas Tambahan Skor per tahunKepala sekolah 4Wakil kepala sekolah/ketua jurusan/kepala lab/ kepala bengkel 2Pembina kegiatan ekstra kuriluler (pramuka, drumband, mading, KIR, dsb.) 1Skor maksimum (taksiran): 2 tahun pengurus nasional organisasi kependidikan, 2 tahun pengurus organisasi sosial tingkat nasional, mendapat tugas tambahan sebagai wakasek dan kasek masing-masing selama 4 tahun: (2 x 7) + (2 x 5) + (4 x 2) + (4 x 4) = 48 10. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikanTingkat SkorInternasional Nasional ProvinsiKabupaten/Kota 3020105Melaksanakan tugas di daerah terpencil/tertinggal/bencana/konflik/perbatasan Setiap tahun 4Skor maksimal (taksiran): 1x penghargaan nasional, 3 x penghargaan provinsi:20 + (3 x 10) = 50SKOR MAKSIMUM PER UNSUR PORTOFOLIO(Sebagian merupakan skor maksimum fix dan sebagian yang lain skor maksmum taksiran)NO. UNSUR PORTOFOLIO GURU SKOR1. Kualifikasi akademik 5252. Pendidikan dan pelatihan 2003. Pengalaman mengajar 1604. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran 1605. Penilaian dari atasan dan pengawas 506. Prestasi akademik 1607. Karya pengembangan profesi 858. Keikutsertaan dalam forum ilmiah 629 Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial 4810 Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan 50Jumlah 1500PENGELOMPOKAN KOMPONEN PORTOFOLIO DAN KETENTUANNYAA. Unsur Kualifikasi dan Tugas Pokok (minimal 300 dan semua sub unsur tidak boleh kosong)1. Kualifikasi akademik 525 2. Pengalaman mengajar 1603. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran 160Jumlah 845B. Unsur Pengembangan Profesi (minimal 200 dan Guru yang ditugaskan pada daerah khusus minimuml 150)1. Pendidikan dan pelatihan 2002. Penilaian dari atasan dan pengawas 503. Prestasi akademik 1604. Karya pengembangan profesi 85Jumlah 495C. Unsur Pendukung Profesi (tidak boleh nol dan maksimal 100)1. Keikutsertaan dalam forum ilmiah 622. Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial 483. Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan 50Jumlah 160BATAS LULUS: 850 (57% dari perkiraan skor maksimum) Apabila skor maksimal kualifikasi akademik tidak memperhitungkan ijazah S2 dan S3 (yang pada umumnya guru tidak memiliki), maka batas lulus menjadi: 850/1125 x 100% = 75,56% &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(infopendidikankita.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-2848373591235056984?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/2848373591235056984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=2848373591235056984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/2848373591235056984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/2848373591235056984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/11/naskah-perangkat-fortofolio-sertifikasi.html' title='NASKAH PERANGKAT FORTOFOLIO SERTIFIKASI'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-718026292027647333</id><published>2008-11-04T10:14:00.001+07:00</published><updated>2008-11-04T10:16:52.044+07:00</updated><title type='text'>TANYA JAWAB SEPUTAR SERTIFIKASI</title><content type='html'>&lt;a href="http://infopendidikankita.blogspot.com/2008/02/tanya-jawab-seputar-sertifikasi.html"&gt;TANYA JAWAB SEPUTAR SERTIFIKASI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. Apa yang dimaksud dengan sertifikasi guru?Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesional guru. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik pendidikan yang berkualitas. 2. Apa yang dimaksud dengan sertifikat pendidik?Sertifikat pendidik adalah sebuah sertifikat yang ditandatangani oleh perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi sebagai bukti formal pengakuan profesionalitas guru yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional. 3. Mengapa disebut sertifikat pendidik bukan sertifikat guru?Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen disebut sertifikat pendidik. Pendidik yang dimaksud disini adalah guru dan dosen. Proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru disebut sertifikasi guru, dan untuk dosen disebut sertifikasi dosen. 4. Apa tujuan dan manfaat sertifikasi guru?Sertifikasi guru bertujuan untuk:a. menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional b. meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikanc. meningkatkan martabat guru d. meningkatkan profesionalitas guruAdapun manfaat sertifikasi guru dapat dirinci sebagai berikut.a. Melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten, yang dapat merusak citra profesi guru.b. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional.c. Meningkatkan kesejahteraan guru5. Mengapa sertifikasi guru dilakukan?Guru merupakan sebuah profesi seperti profesi lain: dokter, akuntan, pengacara, sehingga proses pembuktian profesionalitas perlu dilakukan. Seseorang yang akan menjadi akuntan harus mengikuti pendidikan profesi akuntan terlebih dahulu. Begitu pula untuk profesi lainnya termasuk profesi guru. 6. Apa dasar pelaksanaan sertifikasi?Dasar utama pelaksanaan sertifikasi adalah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan tanggal 30 Desember 2005. Pasal yang menyatakannya adalah Pasal 8: guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal lainnya adalah Pasal 11, ayat (1) menyebutkan bahwa sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2007. 7. Apa sertifikasi guru menjamin peningkatan kualitas guru?Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai suatu tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Perlu ada kesadaran dan pemahaman dari semua fihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk menuju kualitas. Kesadaran dan pemahaman ini akan melahirkan aktivitas yang benar, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas. Kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk meningkatkan kualifikasinya, maka belajar kembali ini bertujuan untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan ketrampilan, sehingga mendapatkan ijazah S-1. Ijazah S-1 bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar melainkan konsekuensi dari telah belajar dan telah mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau guru mengikuti sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standar kompetensi guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan yang dimaksud. Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan lain guna memperoleh sertifikat profesi kecuali mempersiapkan diri dengan belajar yang benar untuk menghadapi sertifikasi. Berdasarkan hal tersebut, maka sertifikasi akan membawa dampak positif, yaitu meningkatnya kualitas guru. 1. Siapa yang akan melaksanakan sertifikasi guru?UUGD Pasal 11 ayat (2) dinyatakan bahwa sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan demikian sertifikasi guru diselenggarakan oleh LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional. 2. Apa persyaratan perguruan tinggi yang dapat melaksanakan sertifikasi guru?Persyaratan: a. memiliki program studi pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi sesuai dengan peraturan yang berlakub. ditetapkan oleh Menteri Pendidikan NasionalSedangkan komponen utama yang diseleksi menyangkut jumlah program studi kependidikan, peringkat akreditasi Badan Akreditasi Nasional BAN) Perguruan Tinggi tiap program studi kependidikan, Sumber Daya Manusia (SDM) setiap program studi, sarana dan prasarana, laporan Evaluasi Program Studi Berdasarkan Evaluasi Diri (EPSBED) setiap program studi kependidikan, ketaatazasan dalam penyelenggaraan PT. 3. Apakah perguruan tinggi swasta boleh melaksanakan sertifikasi guru?Tentu saja boleh, asalkan perguruan tinggi tersebut memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan masuk dalam daftar perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional. 4. Siapa yang berhak memberikan penilaian guru peserta sertifikasi?Penilaian guru yang mengikuti sertifikasi dilakukan oleh asesor. Yang melakukan seleksi dan menetapkan asesor adalah perguruan tinggi penyelenggara sertifikasi guru. Tugas asesor adalah menilai kompetensi guru sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan.5. Apa kriteria asesor?a. WNI yang berstatus sebagai dosen, widyaiswara, instruktur/guru senior, atau pengawas di lingkungan Dinas Pendidikan yang bersertifikat pendidik.b. Sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu melaksanakan tugas sertifikasi guru.c. Memiliki komitmen dan sanggup melaksanakan sertifikasi guru secara obyektif.d. Berpendidikan minimal S2 (ada unsur kependidikan).e. Berpengalaman mengajar, melatih, atau membimbing guru atau calon guru dalam rentang 5 (lima) tahun terakhir dalam bidang yang sesuai. 6. Siapa yang menunjuk asesor?Yang menetapkan asesor adalah Rektor perguruan tinggi yang ditunjuk sebagai pelaksana sertifikasi.7. Guru muatan local, guru TIK, dan guru Kelautan, Pariwisata siapa yang mensertifikasi?Guru muatan lokal, guru TIK, guru Kelautan, dan Pariwisata disertifikasi oleh LPTK dalam rayon setempat bekerjasama dengan perguruan tinggi lain baik dari dalam rayon maupun di luar rayon, baik LPTK maupun non LPTK yang memiliki kelayakan.1. Siapa saja yang dapat mengikuti sertifikasi guru? Apakah sertifikasi hanya berlaku bagi guru yang mengajar di sekolah negeri?Semua guru yang memenuhi persyaratan berhak mengikuti sertifikasi, baik guru baik PNS maupun Non-PNS. UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tidak membedakan guru menurut unit organisasinya, terutama berkaitan dengan tunjangan profesi, tunjangan fungsional, dan tunjangan khusus. 2. Apakah guru yang belum mempunyai akta mengajar boleh mengikuti sertifikasi guru?Semua guru dalam jabatan boleh mengikuti sertifikasi guru asalkan memenuhi persyaratan sertifikasi guru.3. Apakah guru honorer boleh mengikuti sertifikasi guru?Guru honorer yang memenuhi kriteria boleh mengikuti sertifikasi guru.4. Apa definisi guru dalam jabatan?Guru dalam jabatan adalah guru yang secara resmi telah mengajar pada suatru satuan pendidikan saat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen diberlakukan. 5. Apakah guru yang akan pensiun perlu mengikuti sertifikasi?Semua guru yang belum pensiun berhak mengikuti sertifikasi.6. Guru agama yang bertugas di sekolah binaan Depdiknas, siapa yang mensertifikasi?Sertifikasi guru agama baik yang diangkat Depdiknas, Depag, maupun Pemda dilakukan oleh Depag.7. Guru BP apakah juga dapat dimasukkkan dalam kuota?Guru BP dapat dimasukkan dalam kuota, sementara itu instrumennya akan disiapkan.8. Jika guru sudah pernah mengikuti uji kompetensi yang dilakukan oleh propinsi, apakah masih harus mengikuti sertifikasi guru?Uji sertifikasi yang dilakukan oleh provinsi memiliki tujuan yang berbeda dengan sertifikasi guru sebagai amanat UU Guru dan Dosen, oleh kerena itu guru harus mengikutinya dan hasil uji kompetensi yang pernah diikuti dilampirkan dalam portofolio.9. Apakah guru kejuruan yang sdh mendapatkan sertifikat profesi dari LSP masih harus mengikuti sertifikasi guru?Guru SMK yang sudah memiliki sertifikat profesi dari LSP harus mengkuti sertifikasi dan hasil sertifikasi dari LSP dilampirkan dalam portofolio.1. Apa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat mengikuti sertifikasi?Guru yang dapat mengikuti sertifikasi adalah guru yang telah memenuhi persyaratan utama yaitu memiliki ijasah akademik atau kualifikasi akademik minimal S-1 atau D4. 2. Banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya (mismatch), yaitu guru yang mengajar mata pelajaran yang berbeda dengan bidang keahliannya, misalnya sarjana jurusan pendidikan biologi tetapi mengajar mata pelajaran matematika. Bagaimana mereka disertifikasi?Sertifikasi bagi guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya dapat memilih proses sertifikasi berbasis pada ijazah S1/D4 yang dimiliki, atau memilih proses sertifikasi berbasis bidang studi yang diajarkan. Jalur sertifikasi mana yang akan dipilih oleh guru, sepenuhnya diserahkan guru yang bersangkutan dengan segala konsekuensinya. 3. Apa yang harus dipersiapkan seorang guru dalam mengikuti sertifikasi?Bagi guru yang belum memiliki ijasah S1/D4 wajib menyelesaikan dahulu kuliah S1/D4 sampai yang bersangkutan memperoleh ijasah S1/D4. Program studi yang diambil harus sesuai dengan mata pelajaran yang diampu atau sesuai dengan program studi yang dimiliki sebelumnya. Sambil menyelesaikan studinya, guru dapat mengumpulkan portofolio. Bagi guru yang sudah S1/D4 mempersiapkan diri dengan mengumpulkan portofolio yang merekam jejak profesionalitas guru selama mengabdikan diri sebagai guru. Disamping itu, sambil menunggu kesempatan mengikuti sertifikasi, guru meningkatkan profesionalitasnya dengan melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan dan melakukan inovasi-inovasi pembelajaran di sekolah. 4. Bagaimana caranya agar guru bisa mengikuti sertifikasi?Guru calon peserta sertifikasi yang memenuhi kriteria kualifikasi bisa mendaftarkan diri ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk dimasukkan dalam daftar calon peserta sertifikasi. Dinas Kabupaten/Kota menyusun daftar prioritas guru berdasarkan urutan kriteria yang telah ditetapkan. Guru mencari informasi ke Dinas Kabupaten/ Kota. 5. Bagaimana mekanisme rekrutmen calon peserta sertifikasi guru ?Proses rekrutmen peserta sertifikasi mengikuti alur sebagai berikut:a. Dinas Kabupaten/Kota menyusun daftar panjang guru yang memenuhi persyaratan sertifikasi. b. Dinas Kabupaten/Kota melakukan rangking calon peserta kualifikasi dengan urutan kriteria sebagai berikut: - masa kerja- usia- golongan (bagi PNS)- beban mengajar- tugas tambahan- prestasi kerjac. Dinas Kabupaten/Kota menetapkan peserta sertifikasi sesuai dengan kuota dari Ditjen PMPTK dan mengumumkan daftar peserta sertifikasi tersebut kepada guru melalui forum-forum atau papan pengumuman di Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. 6. Bagaimana cara mengukur masa kerja?Masa kerja dihitung selama seseorang menjadi guru. Bagi guru PNS masa kerja dihitung mulai dari diterbitkannya surat keterangan melaksanakan tugas berdasarkan SK CPNS. Bagi guru non PNS masa kerja dihitung selama guru mengajar yang dibuktikan dengan Surat Keputusan dari Sekolah berdasarkan surat pengangkatan dari yayasan. 7. Berapakah jam wajib mengajar guru ?Menurut UUGD dan Permendiknas jumlah jam wajib mengajar guru adalah 24 jam tatap muka.8. Bagaimana kalau guru tersebut tidak dapat memenuhi jumlah jam wajib mengajar, misalnya untuk guru bahasa asing selain bahasa Inggris, atau guru di daerah terpencil ? Untuk memenuhi jumlah wajib mengajar, maka seorang guru dapat melakukan:- mengajar di sekolah lain yang memiliki ijin operasional Pemerintah atau Pemerintah Daerah- melakukan Team Teaching (dengan mengikuti kaidah-kaidah team teaching) Bagi guru dengan alasan tertentu sama sekali tidak dapat memenuhi kewajiban mengajar 24 jam misalnya guru yang mengajar di daerah terpencil, maka seperti dalam Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 pasal 6 ayat (4), guru tersebut harus mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Pendidikan Nasional atau pejabat yang ditunjuk. 9. Apakah kepala sekolah juga harus disertifikasi ?Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah juga harus mengikuti sertifikasi. Kewajiban mengajar kepala sekolah adalah 6 jam tatap muka dan wakil kepala sekolah 12 jam tatap muka. Idealnya kepala sekolah dan wakil kepala sekolah harus memperoleh sertifikat pendidik lebih dahulu, agar jadi contoh yang baik bagi guru yang lain. 10. Pada tahun 2007 kuota non PNS tetap 25%, padahal banyak guru non PNS yang masa kerjanya masih sedikit masuk dalam kuota. Hal ini menimbulkan iri pada guru PNS yang masa kerjanya lebih lama. Kuota guru non PNS tetap 25% karena sudah merupakan kesepakatan dengan BMPS sebagai bagian dari bentuk perhatian kepada guru non PNS, namun guru non PNS yang mengikuti sertifikasi harus memenuhi persyaratan masa kerja minimal 2 tahun. 1. Bagaimana mekanisme pelaksanaan sertifikasi guru?Ada dua macam pelaksanaan sertifikasi guru, yaitu:a. melalui penilaian portofolio bagi guru dalam jabatan, dan b. melalui pendidikan profesi bagi calon guruSertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui penilaian portofolio. Penilaian portofolio tersebut merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:a. kualifikasi akademik;b. pendidikan dan pelatihan;c. pengalaman mengajar; d. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;e. penilaian dari atasan dan pengawas; f. prestasi akademik; g. karya pengembangan profesi;h. keikutsertaan dalam forum ilmiah;i. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; danj. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.Guru yang memiliki nilai portofolio di atas batas minimal dinyatakan lulus penilaian portofolio dan berhak menerima sertifikat pendidik. Namun, guru yang hasil penilaian portofolionya memperoleh nilai kurang sedikit dari batas minimal diberi kesempatan untuk melengkapi portofolio. Setelah lengkap guru dinyatakan lulus dan berhak menerima sertifikat pendidik.Bagi guru yang memperoleh nilai jauh di bawah batas minimal lulus wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) profesi guru yang akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional. Pada akhir diklat profesi guru, dilakukan ujian dengan materi uji mencakup 4 kompetensi guru. Bagi guru yang lulus ujian berhak menerima sertifikat pendidik, dan guru yang belum lulus diberi kesempatan untuk mengulang materi diklat yang belum lulus sebanyak 2 kali kesempatan. 2. Apa yang dimaksud dengan portofolio?Portofolio adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Jadi portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mencerminkan rekam jejak profesionalitas guru selama mengajar yang mencakup 10 jenis seperti pada pertanyaan nomor 1 di atas. 3. Sebagai peserta sertifikasi, apa yang harus dilakukan guru dengan portofolio yang dimiliki ?Portofolio yang sudah didokumentasikan guru dirangkum dalam suatu format Instrumen portofolio. Instrumen tersebut sudah disiapkan dan akan didistribusikan kepada guru melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Instrumen portofolio diisi guru dengan sejujur-jujurnya sesuai dengan perjalanan profesionalitas guru dan dilampiri dengan bukti fisik yang telah disahkan keasliannya. 4. Siapa yang mengesahkan dokumen portofolio?Dokumen portofolio disahkan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah tempat guru mengajar. Untuk Kepala Sekolah berkas portofolio disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditunjuk.5. Bagaimana kalau semua dokumen portofolio hilang atau rusak?Karena penilaian portofolio berdasarkan dokumen yang diterima, maka harus ada bukti yang dilampirkan. Apabila dokumen tersebut hilang, maka guru harus mencari bukti lain dari sumber yang mengeluarkan dokumen tersebut.Dokumen yang rusak dapat difotokopi dan disahkan oleh lembaga yang mengeluarkan dokumen tersebut atau pejabat yang ditunjuk. 6. Apakah penilaian portofolio sama dengan penilaian angka kredit jabatan fungsional untuk kenaikan pangkat guru?Ada hal-hal yang sama, ada juga yang berbeda seperti skala penilaian dan bobot untuk masing-masing komponen berbeda dengan penilaian angka kredit jabatan.7. Apakah setiap komponen yang mendeskripsikan profesionalitas guru itu harus ada. Kalau salah satu tidak ada, tapi dipenuhi dengan komponen lainnya, bagaimana ? Seorang guru yang profesional harus memenuhi seluruh komponen yang disebutkan di point 1 (Prosedur dan Mekanisme Sertifikasi Guru) di atas. Komponen kualifikasi akademik; pendidikan dan pelatihan; pengalaman mengajar; perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; dan penilaian dari atasan dan pengawas merupakan komponen yang utama dalam sertifikasi. Jadi semua komponen harus dipenuhi. 8. Apa yang dimaksud dengan pendidikan dan pelatihan profesi guru?Pendidikan dan pelatihan profesi guru (Diklat Profesi Guru/DPG) merupakan program pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki otoritas untuk melaksanakan sertifikasi guru bagi peserta sertifikasi yang belum lulus penilaian portofolio. 9. Pada akhir pendidikan dan pelatihan profesi guru, peserta sertifikasi harus mengikuti ujian, apa yang diujikan ?Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan profesi guru diakhiri dengan ujian yang mencakup kompetensi guru dibidang pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional10. Apa yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik?Kompetensi pedagogik meliputi: a. pemahaman terhadap peserta didik, dengan indikator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif dan kepribadian dan mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didikb. perancangan pembelajaran, dengan indikator esensial: memahami landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilihc. pelaksanaan pembelajaran dengan indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.d. perancangan dan pelaksanaan evaluasi hasil belajar, dengan indikator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assesment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umume. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya, dengan indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.11. Apa yang dimaksud dengan kompetensi profesional?Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah-langkah pene-litian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi. Banyak ahli pendidikan yang memberikan koreksi seharusnya lebih cocok digunakan istilah kompetensi akademik. Kompetensi professional adalah untuk keempat kompetensi guru tersebut di atas.12. Apa yang dimaksud dengan kompetensi sosial?Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.13. Apa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian?Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial; bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial: menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.14. Bagaimana proses pengumuman sertifikasi guru?Hasil penilaian portofolio dan diklat profesi guru oleh Rayon LPTK dikirimkan ke Panitia Sertifikasi Tingkat Kabupaten/Kota untuk diinformasikan ke guru peserta sertifikasi. 15. Apakah guru boleh mendapatkan sertifikat lebih dari satu?Seseorang dapat memperoleh lebih dari satu sertifikat pendidik, namun hanya dengan satu nomor registrasi dari Departemen Pendidikan Nasional. 16. Apa yang akan dilakukan seorang guru setelah memperoleh sertifikat pendidik?Guru yang telah memiliki sertifikat pendidik harus terus melakukan peningkatan kompetensinya melalui berbagai kegiatan untuk meningkatkan profesionalitas guru berkelanjutan (continous professioal development). Hal ini harus berlangsung secara berkesinambungan, karena prinsip mendasar adalah guru harus merupakan a learning person, belajar sepanjang hayat masih dikandung badan. Sebagai guru profesional dan telah menyandang sertifikat pendidik, guru berkewajiban untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru. Pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous professional development) menggunakan wadah guru yang sudah ada, yaitu kelompok kerja guru (KKG) untuk tingkat SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuk tingkat sekolah menengah di P4TK, di perguruan tinggi dan di tempat lain yang merupakan wahana pemeliharaan dan peningkatan kompetensi. Aktifitas guru di KKG/MGMP tidak saja untuk menyelesaikan persoalan pengajaran yang dialami guru dan berbagi pengalaman mengajar antar guru, tetapi juga untuk mengembangkan kontak akademik dan melakukan refleksi diri. 17. Siapa pemberi sertifikat ?Yang memberi sertifikat adalah Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan sertifikasi guru.18. Berapa lama berlakunya sertifikat pendidik ?Sertifikat pendidik yang diperoleh guru berlaku sepanjang yang bersangkutan melaksanakan tugas sebagai guru sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.19. Apa saja kewajiban guru sebagai tenaga profesional?Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban: a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dane. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. 20. Bolehkah seorang guru memiliki lebih dari satu sertifikat pendidik?Boleh, jika ada kesempatan. Namun nomor registrasi dan tunjangan profesinya hanya 1. 21. Jika tidak lulus ujian diklat profesi, apa yang harus dilakukan seorang guru ?Guru yang yang tidak lulus ujian diklat profesi harus meningkatkan kompetensinya melalui belajar mandiri, pertemuan MGMP, atau pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas, PMPTK, atau lembaga lain (remedial program). Setelah siap maka guru diberi kesempatan dua kali untuk ujian ulangan. 22. Apa fungsi Pengawas dalam sertifikasi guru?Bersama dengan kepala sekolah, Pengawas berperan sebagai evaluator atau penilai bagi guru dalam hal melaksanakan pembelajaran, kompetensi kepribadian, dan sosial dengan menggunakan format yang telah disiapkan.23. Penilaian atasan dan pengawas, bolehkah kepala sekolah saja atau harus keduanya?Instrumen penilaian dari atasan dan pengawas harus diisi oleh keduanya dalam satu format instrumen.24. Apa peran LPMP dan P4TK dalam sertifikasi guru?Peran LPMP dan P4TK dalam sertifikasi guru:1) menjadi salah satu sumber informasi sertifikasi guru, 2) melakukan sosialisasi sertifikasi kepada guru, 3) LPMP mengolah data peserta dan menganalisis hasil sertifikasi guru sebagai bahan kebijakan pembinaan guru pasca sertifikasi, 4) P4TK melakukan pembinaan guru pasca sertifikasi,5) Widyaiswara pada LPMP dan P4TK yang memenuhi persyaratan dapat mendaftarkan sebagai asesor di LPTK setempat yang ditetapkan menyelenggarakan sertifikasi.1. Dari mana sumber dana dialokasikan untuk sertifikasi guru?Sertifikasi guru dianggarkan melalui dana APBN, APBD dan sumber lain yang sah. 2. Apa kewajiban Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan sertifikasi guru?Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota bertanggung jawab terhadap penetapan peserta sertifikasi guru setiap tahun. Untuk itu Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota harus membentuk Panitia Pelaksanaan Sertifikasi Guru. Tugas Panitia Sertifikasi Guru adalah: a. Mengikuti sosialisasi sertifikasi di Pusat dan atau di Propinsib. Menentukan urutan prioritas peserta sertifikasi berdasarkan kriteria yang berlaku sesuai dengan kuota Kabupaten/kotac. Membuat SK penetapan peserta sertifikasi d. Melakukan sosialisasi pelaksanaan sertifikasi kepada gurue. Menyerahkan kepada peserta sertifikasi berkas-berkas sebagai berikut:1) Formulir pendaftaran2) Nomor peserta/nomor kuota3) Panduan pengisian instrument portofolio4) Instrumen portofolio5) Instrumen Penilaian Atasanf. Mengumpulkan dari guru peserta sertifikasi berkas :1) Formulir pendaftaran2) Instrumen portofolio yang sudah diisi3) Bukti fisik yang mendukung instrument portofoliog. Mengecek kelengkapan data/berkas pesertah. Mengirim berkas ke LPTK penyelenggara sertifikasi yang ditunjuk Pemerintahi. Mengumumkan hasil penilaian dari LPTK kepada guru peserta sertifikasij. Mengumpulkan kelengkapan berkas portofolio bagi guru yang belum lulus atau belum lengkap portofolionyak. Membantu remidiasi bagi guru yang belum lulus ujian diklat pendidikan profesi l. Memfasilitasi guru yang belum lulus diklat profesi untuk mengikuti ujian ulang diklat profesi. 3. Bolehkah guru atau institusi membiayai sendiri untuk melaksanakan sertifikasi?Boleh, sepanjang masih dalam jumlah kuota kabupaten/kota atau provinsi yang ditetapkan oleh Mendiknas. Sertifikasi guru dalam jabatan merupakan program Pemerintah yang didasarkan pada rencana tahunan yang ditetapkan oleh Mendiknas. Oleh karena itu, tidak diperkenankan ada tambahan peserta di luar dari rencana tahunan yang sudah ditetapkan. 4. Berapa lama tenggang waktu yang disediakan bagi guru untuk memiliki sertifikat pendidik sehubungan dengan berlakunya UUGD ?Semua guru harus sudah memiliki sertifikat pendidik selama 10 tahun setelah UUGD disahkan. Berarti tahun 2015 proses sertifikasi guru dalam jabatan harus sudah selesai.7. Siapa yang akan memonitor guru yang lulus sertifikasi sehingga kinerjanya tidak menurun setelah diberi tunjangan?Guru harus dapat mempertahankan kompetensinya sebagai profesi guru setelah mendapat sertifikat guru. Kepala Sekolah dan Pengawas yang akan memantau kinerja guru setelah mendapat sertifikasi guru.8. Tahun 2007 ini dana untuk penggandaan dokumen dan sosialisasi belum tersedia di dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota.Dana untuk penggandaan dokumen dan untuk sosialisasi disiapkan oleh kabupaten/kota, untuk itu Ditjen PMPTK akan mengirimkan surat kepada Bupati/Walikota untuk membantu menyediakan anggaran untuk sertifikasi guru.1. Hak apa yang akan diterima oleh guru setelah memperoleh sertifikat pendidik ?Dalam pasal 15 ayat (1) UUGD dinyatakan bahwa pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.Ayat (2) menyatakan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.Ayat (3): Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Ayat (4): Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.2. Apa dasar untuk menentukan jumlah tunjangan profesi bagi guru non PNS? Tunjangan profesi guru disesuaikan dengan gaji pokok pada pangkat/golongan PNS. Tunjangan bagi guru non PNS disesuaikan dengan pangkat/golongan PNS setelah melalui proses in-passing sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3. Setelah guru memperoleh sertifikat pendidik, persyaratan apa lagi yang harus dipenuhi untuk mendapat tunjangan profesi?Guru yang telah mendapatkan sertifikat profesi berhak untuk mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu bulan gaji pokok. Persyaratan guru yang mendapatkan tunjangan adalah sebagai berikut.a. Guru Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Pemerintah Daerah yang telah memiliki sertifikat pendidik, nomor registrasi guru profesional dari Departemen Pendidikan Nasional, dan melaksanakan beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai bulan Januari pada tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik. b. Guru Pegawai negeri Sipil yang diangkat oleh Pemerintah yang telah memeiliki sertifikat pendidik, nomor registrasi guru profesional dari Departemen Pendidikan Nasional, dan melaksanakan beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui APBN terhitung mulai bulan Januari pada tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik. c. Guru Non Pegawai negeri Sipil yang diangkat oleh badan hukum penyelenggara pendidikan yang telah memiliki sertifikat pendidik, nomor registrasi guru profesional dari Departemen Pendidikan Nasional, dan melaksanakan beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Dekonsentrasi terhitung mulai bulan Januari pada tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik. d. Guru yang melaksanakan beban kerja di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada a, b, dan c di atas memperoleh tunjangan profesi setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Pendidikan Nasional atau pejabat yang ditunjuk.4. Jika lulus sertifikasi, kapan tunjangan profesi diberikan?Tunjangan profesi diberikan mulai bulan Januari satu tahun setelah sertifikat profesi diberikan. &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(infopendidikankita.blogspot.com)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-718026292027647333?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/718026292027647333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=718026292027647333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/718026292027647333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/718026292027647333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/11/tanya-jawab-seputar-sertifikasi.html' title='TANYA JAWAB SEPUTAR SERTIFIKASI'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-8767006030674820708</id><published>2008-09-15T14:05:00.001+07:00</published><updated>2008-09-15T14:34:31.604+07:00</updated><title type='text'>PENELITIAN TINDAKAN KELAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SM4Py1BWz_I/AAAAAAAAAA4/Sb2fAhE_77c/s1600-h/ngaji.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 288px; height: 145px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SM4Py1BWz_I/AAAAAAAAAA4/Sb2fAhE_77c/s320/ngaji.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246147981833850866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;           Aug        &lt;/div&gt;                     &lt;div class="feedback"&gt;                       &lt;/div&gt;       &lt;div class="postdetails"&gt;                               &lt;/div&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt;Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;manis maupun pahit, dalam mengajar. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span id="more-63"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas, bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian tindakan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecewa karena angket tidak semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak selalu siap dipraktikkan di dunia nyata.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dsb. Singkatnya, kegiatan penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan nasional. Seperti tercantum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas, Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat pengorbanan yang tidak sedikit. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas (PTK).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Anda mungkin heran kenapa istilah ’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan (Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis &amp;amp; McTaggrt, 1982: 5; Reason &amp;amp; Bradbury, 2001: 1).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Penelitian tindakan merupakan intervensi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan kelas’ atau PTK. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar. Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK? Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator Anda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi dan kerjasama dari semua orang yang terlibat, yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya, dapat diraih.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan dalam situasi nyata? Benar. Tindakan dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan dalam melakukan modifikasi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut. Kedua, Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Ketiga, tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan), berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam, Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi. Kutujuh, Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video and audio,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional. Kedelapan, Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. Kesembilan,Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Apa yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Pertanyaan ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?” Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion, 1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy &amp;amp; Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai (Cohen &amp;amp; Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c) alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendekatan tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kriteria dalam Penelitian Tindakan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Benarkah PTk harus memenuhi kriteria tertentu? Benar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti layaknya penelitian, PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar validitas untuk penelitian tindakan condong ke makna dasar validitas dalam penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal dari tindakan sebatas sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Burns, 1999). Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada validitas internal (Davis, 1995, disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan validitas dialogis, yang harus dipenuhi dari awal sampai akhir penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan muncul sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson dkk,1994). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Validitas: demokratik, hasil, proses, katalitik, dan dialoguis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTk, idealnya Anda, guru lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah semua pemangku kepentingan (stakeholders) PTK (guru, kolaborator, administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya? Apakah solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apakah solusinya memiliki relevansi atau keterterapan pada konteks kelas Anda? Semua pemangku kepentingan di atas diberi kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas Anda. Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Validitas Hasil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal ini tergambar dalam siklus penelitian pada Gambar 1 di bawah, di mana ketika dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘information gap’, ditemukan bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul). Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian, yang merupakan kriteria berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Validitas Proses berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan ‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut: Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya, apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa. Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat dialog reflektif yang demokratik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat ditentukan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang komunikatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar, variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang menghambatnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada), dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik jika para peneliti merekamnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan kaset audio atau audio-visual sehingga catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Anda capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya, termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi pembelajaran. Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecemasan. Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang mesti dijalani guru dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;proses pembelajaran komunikatif. Peran baru tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan pemahaman tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini dilakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Validitas Dialogik sejajar dengan proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas, nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan ‘teman yang kritis’ atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat, dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara kritis sehingga terjadi dialog&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kritis atau reflektif. Dengan demikian, kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang terkait dengan yang sedang dikritisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Trianggulasi untuk Mengurangi Subjektivitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Bagaimana Anda meningkatkan validitas PTK Anda? Tidak lain dengan meminimalkan subjektivitas melalui trianggulasi. Anda sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode ganda dan perspektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kolaborator Anda untuk memperoleh gambaran kaya yang lebih objektif. Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164). Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses pembelajaran dengan seperangkat teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan siang pada hari yang berbeda dan jumlah pengamatan yang memadai, katakanlah 4-5 kali. Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh beberapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan. Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian dapat mengamati proses pembelajaran yang sama dalam waktu yang sama pula. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda. Dalam contoh proses pembelajaran bahasa Inggris di atas, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan ajang penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas tersebut. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait. Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan motivasi dapat ditinjau dari teori motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan konstruktivis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Reliabilitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Reliabilitas data PTK Anda secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi PTk terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun (alami) sehingga sulit untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai dengan mengendalikan hampir seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak mungkin atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan bertentangan dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah satunya adalah kontekstual/situasional dan terlokalisasi, dengan perubahan yang menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu tumpuan reliabilitas PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan (dalam lampiran)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;data asli&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti transkrip wawancara dan catatan lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau orang lain yang relevan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kelebihan dan Kekurangan PTK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky, 1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;reflektif/evaluatif dalam PTK; (3)&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;dalam kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat Passow, Miles, dan Draper, 1985).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1) kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;rendahnya efisiensi waktu karena Anda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus punya komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya sementara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Anda masih harus melakukan tugas rutin ; (3)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang demokratis dengan kepekaan tinggi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan pemimimpin demikian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Persyaratan Keberhasilan PTK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (Hodgkinson, 1988): (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Penelitian Tindakan Kolaboratif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kolaborasi atau kerja sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa butir penting tentang PTK kolaboratif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemmis dan McTaggart (1988: 5;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hill &amp;amp; Kerber, 1967, disitir oleh Cohen &amp;amp; Manion, 1985, dalam Burns, 1999: 31): (1) penelitian tindakan yang sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama, (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4) pengaruh langsung hasil PTK pada Anda sebagai guru dan murid-murid Anda serta sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kolaborasi atau kerja sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa; sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah lain;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejawat dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidik guru, antara guru dan peneliti; antara guru dan manajer); sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru bahasa asing dan guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Prinsip-prinsip penelitian tindakan kolaboratif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Tiga tahap PTK kolaboratif adalah: prakarsa, pelaksanaan, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diseminasi (Burns, 1999: 207-208). Butir-butir tentang prakarsa yang perlu dipertimbangkan dalam PTK Anda (Burns, 1999: 207): &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Sejauh dapat dilakukan, agenda PTK tindakan hendaknya ditarik dari kebutuhan-kebutuhan, kepedulian dan persyaratan yang diungkapkan oleh semua pihak Anda sendiri, sejawat, kepala sekolah, murid-murid, dan/atau orangtua murid) yang terlibat dalam konteks pembelajaran/kependidikan di kelas/sekolah Anda;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda hendaknya benar-benar memanfaatkan keterampilan, minat dan keterlibatan Anda sebagai guru dan sejawat;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda hendaknya terpusat pada masalah-masalah pembelajaran kelas Anda, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun demikian, hasil PTK Anda daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori pembelajaran bidang studi Anda;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Metodologi PTK Anda hendaknya ditentukan dengan mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Anda yang sedang diteliti, sumber daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;5.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi evaluasi hendaknya Anda negosiasikan dengan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama penelitian Anda, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang mungkin diperlukan dukungan kebijakannya).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;6.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi serta budaya. Jadi Anda dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen LPTK yang relevan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam PTK, butir-butir pelaksanaan di bawah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus dipertimbangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Burns, 1999: 207-208):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Anda sebagai pelaku PTK hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakannya. Upayakan mendapatkan dari pemimpin dukungan dan bantuan secara terus menerus dalam tahap-tahap pelaksanaan, diseminasi, dan tindak-lanjut penelitiannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda selayaknya dilakukan dalam kelas sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda akan berjalan dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan materi di sekolah atau wilayah sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;PTK Anda hendaknya dipadukan dengan komponen evaluasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam tahap diseminasi PTK perlu dipertimbangkandua butir berikut (Burns, 1999: 208)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;1.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Bentuk pelaporan hasil penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens sasarannya adalah guru-guru bahasa Inggris di SD, misalnya, bentuk laporannya berbeda dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik guru bahasa Inggris di universitas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Jaringan kerja dan mekanisme yang tersedia di dalam lembaga pendidikan Anda hendaknya digunakan untuk menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil penelitian dilakukan lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Kelebihan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan Kelemahan PTK Kolaboratif&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apa kelemahan dan kelebihan PTK? Kelebihannya seperti dikatakan Burns (1999: 13) sebagai berikut. Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat mereka bekerja. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Proses kelompok dan tekanan kolektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif (Wallace, 1998: 209-210): (1) kedalaman dan cakupan, yang artinya makin banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(misalnya studi kasus kelas bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan makin banyak perspektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing; (2)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Validitas dan reliabilitas, yaitu keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan (3) Motivasi yang timbal lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih bersemangat daripada bekerja sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:small;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kelemahan terbesar PTK kolaboratif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan kerjasama antara orang-orang yang berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dapat dipecahkan dengan membicarakan aturan-aturan dasar (Wallace, 1998: 210), seperti yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang akan kita lakukan? Mengapa kita menangani masalah ini? (Apakah kita memiliki motivasi yang sama, atau motivasi yang berbeda?) Bagaimana kita akan melakukannya? (Siapa melakukan apa dan kapan?) Berapa banyak waktu masing-masing dari kita akan siap dihabiskan untuk keperluan ini? Berapa sering kita akan bertemu, di mana dan kapan? Apa hasil akhir yang diharapkan? (Suatu ceramah atau artikel; atau sekadar pengalaman yang sama?) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.ktiguru.org/"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt;http://www.ktiguru.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;a href="http://www.ktiguru.org/"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:small;"  &gt;Sumber : www.edu-articles.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-8767006030674820708?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/8767006030674820708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=8767006030674820708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/8767006030674820708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/8767006030674820708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/penelitian-tindakan-kelas.html' title='PENELITIAN TINDAKAN KELAS'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SM4Py1BWz_I/AAAAAAAAAA4/Sb2fAhE_77c/s72-c/ngaji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-6572312362985676365</id><published>2008-09-15T13:59:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T14:00:45.063+07:00</updated><title type='text'>GURU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;div class="feedback"&gt;                       &lt;/div&gt;       &lt;div class="postdetails"&gt;                               &lt;/div&gt;                &lt;p&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span class="kalender1"&gt;&lt;span style="font-size: 7pt;"&gt;Oleh: Ardiani Mustikasari, S Si, M. Pd&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span id="more-13"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;B. Permasalahan&lt;br /&gt;Bagaimana peranan filsafat pendidikan bagi guru? Apa yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;C. Pembahasan&lt;br /&gt;Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:&lt;br /&gt;1. Metafisika&lt;br /&gt;Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia:&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Manusia adalah&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; makhluk jasmani rohani&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Manusia adalah makhluk individual sosial&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; Manusia adalah makhluk yang bebas&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Manusia adalah makhluk menyejarah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Epistemologi&lt;br /&gt;Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu kesituasi lainnya? Dasn akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?&lt;br /&gt;Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;lima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; cara mengetahui sesuai dengan minat / kepentingan masing-masing guru, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.&lt;br /&gt;Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Aksiologi&lt;br /&gt;Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial.&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?&lt;br /&gt;Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang guru mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional guru. Setiap guru baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.&lt;br /&gt;Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.&lt;br /&gt;Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya:&lt;br /&gt;1. Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran&lt;br /&gt;Komponen penting filsafat pendidikan seorang guru adalah bagaimana memandang pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokok guru? Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang sepontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan siswa. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian guru menekankan pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya menekankan perilaku siswa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Keyakinan mengenai siswa&lt;br /&gt;Akan berpengaruh besar pada bagaimana guru mengajar? Seperti apa siswa yang guru yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik guru. Pandangan negatif terhadap siswa menampilkan hubungan guru-siswa pada ketakutan dan penggunaan kekerasan tidak didasarkan kepercayaan dan kemanfaatan.Guru yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui bahwa anak-anak berbeda dalam kecenderungan untuk belajar dan tumbuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Keyakinan mengenai pengetahuan&lt;br /&gt;Berkaitan dengan bagaimana guru melaksanakan pengajaran. Dengan filsafat pendidikan, guru akan dapat memandang pengetahuan secara menyeluruh, tidak merupakan potongan-potongan kecil subyek atau fakta yang terpisah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;4. Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui&lt;br /&gt;Guru menginginkan para siswanya belajar sebagai hasil dari usaha mereka, sekalipun masing-masing guru berbeda dalam meyakini apa yang harus diajarkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;D. PENUTUP&lt;br /&gt;Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut.&lt;br /&gt;Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;E. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Kneller, George F. 1971. Introduction to the Philosophy of Education. John Willey Sons Inc, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;New York&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;.&lt;br /&gt;Sadulloh, U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bandung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;.&lt;br /&gt;Sindhunata. 2000. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Kanisius, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Soedijarto. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;1993. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu. Balai Pustaka, Jakarta.&lt;br /&gt;Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. PT Bayu Indra Grafika, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sumber : www.edu-articles.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-6572312362985676365?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/6572312362985676365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=6572312362985676365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6572312362985676365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/6572312362985676365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/guru-dan-filsafat-pendidikan.html' title='GURU DAN FILSAFAT PENDIDIKAN'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-7321267574544621544</id><published>2008-09-15T13:55:00.002+07:00</published><updated>2008-09-15T13:57:24.905+07:00</updated><title type='text'>GURU PERLU KREATIVE AGAR SISWA TAK BETE</title><content type='html'>&lt;div class="feedback"&gt;                       &lt;/div&gt;       &lt;div class="postdetails"&gt;                               &lt;/div&gt;                &lt;p&gt;Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah. &lt;span id="more-28"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.&lt;br /&gt;Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.&lt;br /&gt;Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.&lt;br /&gt;Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.&lt;br /&gt;Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.&lt;br /&gt;Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.&lt;br /&gt;Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.&lt;br /&gt;Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.&lt;br /&gt;Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.&lt;br /&gt;Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.&lt;br /&gt;Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.&lt;br /&gt;Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.&lt;br /&gt;Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.&lt;br /&gt;Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.&lt;br /&gt;Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.&lt;br /&gt;Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.&lt;br /&gt;Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.&lt;br /&gt;Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.&lt;br /&gt;Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.&lt;br /&gt;Diantara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.&lt;br /&gt;Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.&lt;br /&gt;Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”&lt;br /&gt;Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.&lt;br /&gt;Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Marjohan&lt;br /&gt;Guru SMA Negeri 3 Batusangkar&lt;br /&gt;Program Layanan Keunggulan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : www.edu-articles.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-7321267574544621544?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/7321267574544621544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=7321267574544621544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/7321267574544621544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/7321267574544621544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/guru-perlu-kreative-agar-siswa-tak-bete_15.html' title='GURU PERLU KREATIVE AGAR SISWA TAK BETE'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-207257810489946852</id><published>2008-09-15T13:53:00.000+07:00</published><updated>2008-09-15T13:54:51.376+07:00</updated><title type='text'>Menggugah Perspektif Masyarakat Tentang Pendidikan</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://nuansaartikel.blogspot.com/2008/08/menggugah-perspektif-masyarakat-tentang.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p class="konten"&gt;Menggugah Perspektif  Masyarakat Terhadap Paradigma Baru&lt;br /&gt;Sitem Pendidikan (Nasional)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pendahuluan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbicara mengenai sistem pendidikan dinegara kita tercinta ini, seolah tidak ada habis-habisnya memicu kontroversi dan polemik berkepanjangan yang terus bergulir ditingkahi dengan komentar yang memunculkan pemeo seperti “ganti pimpinan (menteri) berarti ganti kebijakan (sistem)” atau “tahun ajaran baru, ganti buku baru”, apakah ini sudah menjadi “suratan takdir“ bagi anak bangsa ini yang harus dijalani dalam proses menuju perbaikannya ? Dipersilahkan anda untuk mencari jawaban yang paling pas menurut kaidah dan persepsi masing-masing, dengan tanpa meninggalkan pengertian bahwa segala sesuatu itu pasti akan mengalami perubahan dan hanya satu yang tidak dapat berubah yaitu perubahan itu sendiri. &lt;span id="more-57"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dunia pendidikan (nasional) dirasakan selalu tertinggal dibandingkan dengan perkembangan teknologi, informasi maupun dunia bisnis yang seharusnya seiring sejalan dalam perkembangannya mengikuti tuntutan dan zamannya, apakah karena dunia pendidikan lebih banyak dan harus berorientasi kepada human investment katimbang memikirkan profit and lost yang bernaung dalam suatu wadah/lembaga dengan embel-embel nirlaba ? Mungkin ini suatu fenomena yang sering terjadi dalam dunia pendidikan (nasional) manakala kita ingin maju dan dihadapkan pada tantangan globalisasi disemua sektor.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan sebagai konsekuensinya yang muncul ketika kita ingin mewujudkan harapan cita-cita mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan dapat terwujud adalah bagaimana agar masyarakat mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perkembangan dunia pendidikan ini mengingat dalam membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dengan memiliki spirit semata yang lebih konkrit lagi adalah terbentuknya suatu keinginan atau political will dan komitmen yang kuat dari segenap lapisan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Paradigma Baru Sitem Pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam upaya menjawab kebutuhan dan tantangan dunia global saat ini, paling tidak ada dua aspek dalam sistem pendidikan yang dapat kita jadikan bahan kajian dan kita gali untuk dilakukan perubahan menjadi paradigma baru yang berlaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aspek pertama adalah dalam hal metode pembelajaran, sejak dahulu metode pembelajaran kita selalu berorientasi dan bersumber hanya kepada guru dan berlangsung satu arah (one way), kita sepakat bahwa metode ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi dengan tanpa mengenyampingkan bahwa GURU itu tetap harus menjadi insan yang patut di Gugu dan di tiRu. Sudah saatnya kini orientasi berubah tidak hanya kepada satu sumber saja (Guru), tetapi harus dilakukan berorientai kepada siswa dan secara multi arah, dengan terjadinya proses interaksi ini diharapkan akan menstimulir para siwa untuk lebih menumbuhkan tingkat kepercayaan dirinya, proaktif, mau saling bertukar informasi, meningkatkan keterampilan berkomunikasi, berfikir kritis, membangun kerja sama, memahami dan menghormati akan adanya perbedaan pendapat dan masih banyak harapan positif lainnya yang lahir dari adanya perubahan tersebut serta pada akhirnya siswa akan dihadapkan pada realitas yang sebenarnya dalam memandang dan memahami konteks dalam kehidupan kesehariannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aspek kedua adalah menyangkut manajemen lembaga pendidikan itu sendiri, seperti kita alami selama ini dimana pada waktu sebelumnya sekolah hanya bergerak dan beroperasi sendiri-sendiri secara mandiri, maka dalam konteks pembelajaran masa kini dan kedepan setiap sekolah harus mempunyai dan membangun networking antar lembaga pendidikan yang dapat saling bertukar informasi, pengetahuan dan sumber daya, artinya sekolah lain sebagai institusi tidak lagi dipandang sebagai rival atau kompetitor semata tetapi lebih sebagai mitra (counterpart).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang jika kita pikirkan kembali kedua aspek paradigma baru ini dalam implementasinya tidak akan semudah seperti membalik telapak tangan, akan banyak ekses maupun aspek lainnya yang harus dipikirkan seperti misalnya berakibat akan adanya perubahan dan peran sebuah lembaga pendidikan yang selama ini kita pahami. Namun melalui konteks perubahan ini kelak akan jelas terlihat bagaimana sektor pendidikan akan dapat bersinergi dan seiring sejalan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi, pengetahuan dan bisnis sekalipun, karena ouput dari suatu pendidikan menjadi lebih berkualitas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Implementasi Paradigma Baru Sisdiknas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Output yang bagaimana yang dapat kita harapkan dari suatu proses perubahan pendidikan dalam menuju kearah peningkatan kualitas adalah tergantung dari bagaimana kita mengimplemantisakan, dengan tetap berkomitmen dan berpegang pada aspek perubahan paradigma baru sistem pendidikan dan stressing nya difokuskan terhadap hal-hal berikut ini : (R.Eko Inrajit, 2006, Halaman 379)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1.Sistem Pendidikan harus diimplementasikan dengan berpegang pada prinsip “muatan lokal, orientasi global”&lt;br /&gt;2.Konten dan kurikulum yang dibuat harus berbasis pada penciptaan kompetensi siswa (kognitif, afektif dan psikomotorik)&lt;br /&gt;3.Proses belajar mengajar harus berorientasi pada pemecahan masalah riil dalam kehidupan, tidak sekedar mengawang-awang (problem base learning)&lt;br /&gt;4.Fasilitas sarana dan prasarana harus berbasis teknologi informasi agar dapat tercipta jejaring pendidikan antar sekolah dan lembaga lainnya&lt;br /&gt;5.Sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidkan harus mempunyai kemampuan multi dimensi yang dapat merangsang multi intelejensia peserta didik&lt;br /&gt;6.Manajemen pendidikan harus berbasis sekolah ? Sistem informasi terpadu untuk menunjang proses administrasi dan strategis&lt;br /&gt;7.Otoritas pemerintah daerah diharapkan lebih berperan dalam menunjang infrastruktur dan suprastruktur pendidikan ? Sesuai strategi otonomi daerah yang diterapkan secara nasional.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penutup&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sepaham dan sepakat pada akhirnya bahwa “nasib” keberhasilan anak bangsa ini untuk dapat berkompetisi dan berhasil memenangkan persaingan di segala sektor di era global ini berada pada institusi pendidikan&lt;br /&gt;Dalam upaya menciptakan keunggulan kompetitif ini, masyarakat perlu berpartisipasi secara aktif untuk dapat menumbuhkan dan menciptakan inovasi yang berharga bagi perkembangan dunia pendidikan, karena tanpa ada inovasi yang signifikan, pendidikan nasional hanya akan menghasilkan output yang tidak mandiri, kurang percaya diri dan selalu akan tergantung pada pihak lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam perspektif masyarakat terhadap pendidikan harus mampu menjembatani dan mengatasi kesenjangan antara proses, hasil dan pengalaman selama dibangku sekolah dengan kenyataan tuntutan hidup yang riil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam era globalisasi ini tantangan pendidikan menjadi tidak terbatas (waktu, lokasi dll), jika kita (masyarakat) berdiam diri dan tidak mempunyai keinginan untuk melakukan suatu perubahan kearah perbaikan, maka bersiap-siaplah kita sebagai bangsa akan termajinalisasikan secara alami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semoga hal ini tidak akan terjadi, bagaimana menurut anda ……………….?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tangerang, 27 Juni 2007&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditulis oleh :&lt;br /&gt;Endang Suryana&lt;br /&gt;Pemerhati dan Praktisi Pendidikan dan Pelatihan&lt;br /&gt;Mitra Consulting &amp;amp; Training (MCT Foundation)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber : www.nuansaartikel.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-207257810489946852?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/207257810489946852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=207257810489946852' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/207257810489946852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/207257810489946852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/menggugah-perspektif-masyarakat-tentang.html' title='Menggugah Perspektif Masyarakat Tentang Pendidikan'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-5595927156493700071</id><published>2008-09-12T14:15:00.002+07:00</published><updated>2008-09-12T14:16:25.455+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Pendidikan Agama Tak Menarik</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoXOl9sR6I/AAAAAAAAAAw/otvwn7q5ekM/s1600-h/ngj.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245030255502837666" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="148" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoXOl9sR6I/AAAAAAAAAAw/otvwn7q5ekM/s320/ngj.jpg" width="188" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Relevensi pendidikan agama dalam transformasi sosial akhir-akhir ini banyak dipertanyakan. Pertanyaan itu menyangkut apakah pendidikan agama seperti model yang dewasa ini dipraktikkan sudah tepat dan memiliki relevansi dalam transformasi sosial. Pendidikan agama tidak boleh hanya berbentuk pengajaran agama. Artinya pengalihan pengetahuan tentang agama bisa menghasilkan pengetahuan dan ilmu, tetapi pengetahuan ini belum menjamin pengarahan manusia yang bersangkutan untuk hidup sesuai pengetahuan tersebut (Riberu, 1976). Pendidikan agama akan dapat memenuhi fungsinya apabila ia mampu menggerakkan anak didik belajar mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari (Soedjatmoko, 1977). Pada kenyataannya pendidikan agama dianggap telah gagal dalam memberikan sumbangan bagi lahirnya generasi baru yang memiliki komitmen, respek diri dan respek sosial. Ada catatan kegagalan lain pendidikan agama berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup, pembekalan menghadapi modernisasi, pencegahan konflik kekerasan, penguatan flatform sosial, penguatan hak asasi manusia dan apresiasi kepada budaya lokal. (Dian Nafi, 2003). Ditegaskan oleh Dian Nafi, terdapat tiga faktor yang ditengarai memperparah kegagalan di atas. (1) Pengajaran agama terlalu dogmatik dan tekstual, (2) lemahnya orientasi kontekstual dalam pengajaran dan pengamalan agama dan (3) meningkatnya pergumulan struktural yang menyertakan idiom-idiom keagamaan. Permasalahannya bagaimana model pendidikan yang tepat sesuai khasanah dan kebudayaan lokal agar mampu menghasilkan generasi baru yang mampu mengamalkan ajaran agama dalam rangka mengatasi persoalan sosial. Kontekstualisasi pendidikan agama dalam perubahan sosial dalam hal ini memiliki relevansi yang kuat. Transformasi Sosial Mochtar Buchori mendefinisikan pendidikan agama sebagai upaya sabar untuk mengembangkan cara hidup yang mengikuti perintah suatu agama. Pola hidup penganut agama didasari oleh penghayatannya atas nilai-nilai agama yang dianutnya. Nilai-nilai itu diserap untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama memiliki urgensi dalam memberikan sumbangan konstruktif bagi pembangunan bangsa. Bahkan pada tataran pribadi agama memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan akhlaq, moralitas dan kepribadian anak. Internalisasi nilai-nilai agama ke dalam kehidupan anak akan memberikan arah bagi perkembangannya di masa depan. Dengan demikian, tugas pendidikan agama tidak terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan secara keseluruhan, melainkan juga pada tingkat manusia sebagai pribadi. Apa yang disampaikan J Riberu bahwa pendidikan agama tidak boleh sekadar pengajaran agama merupakan hal yang sangat fundamental. Artinya jangan sampai pendidikan agama hanya merupakan pengalihan pengetahuan agama, karena pengalihan pengetahuan agama mungkin bisa menghasilkan pengetahuan dan ilmu, tetapi pengetahuan itu belum mampu menjamin pengarahan untuk hidup sesuai pengetahuan tersebut. Oleh karena itu pendidikan yang autentik, selain mengajarkan bahan-bahan pengetahuan, juga harus mengusahakan pengamalan dan penghayatan nilai-nilai di dalam situasi dan lingkungan hidup sehari-hari. Pendidikan agama seringkali menjadi tidak menarik karena disajikan secara konvensional dan dogmatis. Penyajian terlalu terkesan indoktrinasi yang dikemas deduktif seringkali membosankan sehingga seakan agama tidak memiliki relevansi dan tercerabut dari konteks permasalahan kehidupan. Padahal apabila dikemas dalam model yang menarik, tentu akan menarik pula. Kemudian akan membangkitkan rasa ingin tahu terhadap konteks pengetahuan agama dengan realitas sosial. Model penyampaian yang memberikan peran serta peserta didik dalam kegiatan eksplorasi sosial akan memberikan tantangan pada peserta didik terhadap aplikasi dan implementasi nilai-nilai agama yang telah diajarkan. Dalam situasi pergeseran nilai yang tidak menentu, agama dapat menjadi pedoman yang kokoh. Ia akan menjadi sumber inspirasi untuk menghadapi bermacam-macam tantangan. Pendidikan agama akan dapat memenuhi fungsi-fungsinya dalam proses pembangunan, apabila ia mampu menggerakkan anak didik untuk belajar mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama yang hanya menekankan penghafalan kaidah-kaidah dalam bentuk abstak-steril kurang memenuhi relevansi terhadap usaha mengelola perubahan sosial melalui upaya membina anak didik dalam menghadapi masa peralihan yang kritis semacam ini. Pendidikan akan dapat memenuhi fungsinya apabila pendidikan agama (1) berusaha memupuk keberanian berinisiatif, peka terhadap hak dan keperluan sesama manusia, dan sanggup bekerja sama untuk kepentingan umum. (2) Berusaha memupuk motivasi yang kuat pada diri anak didik untuk mempelajari kenyataan sosial yang terdapat pada masyarakat, (3) berusaha merangsang anak didik mengamalkan iman mereka dan (4) berusaha berintegrasi dan bersinkronisasi dengan ilmu non-agama (Soedjatmoko dalam Sindhunata, 2001). Integrasi pendidikan agama dengan kehidupan masyarakat perlu dikembangkan karena di Indonesia agama memberikan warna yang khas dalam segi-segi sosial masyarakat. Dalam bukunya yang terkenal, Religion in The Politics of Economic Development, Soedjatmoko (1994) pernah mengingatkan sistem organisasi sosial kebanyakan masyarakat tradisional Asia dibentuk oleh agama. Mengapa struktur sosial dan budaya masyarakat harus dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pendidikan agama? Paling tidak ada tiga alasan yang perlu dipertimbangkan pada konteks ini. Pertama, struktur sosial dan nilai-nilai budaya merupakan fakta dan realitas sosial yang ada di lingkungan anak didik. Kedua, budaya lokal yang ada di lingkungan belajar anak didik adalah contoh konkret perkembangan peradaban yang dimiliki masyarakat. Ketiga, tentu saja kebudayaan lokal memiliki kearifan lokal yang dapat dijadikan teladan bagi anak didik dalam menghayati konsep agama. Kebudayaan Lokal Pendidikan agama memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh ilmu pengetahuan lain. Karakteristik ini terletak pada aspek penekanan pengamalan ilmu ke dalam kehidupan sehari-hari. Kunci keberhasilan bukan saja terletak pada kemampuan penguasaan pengetahuan agama saja, melainkan kemampuannya menerapkan, dan mengaplikasikan dalam realitas sosial keseharian. Dengan sifatnya yang khas, maka guru harus secara cerdas memilih model pendidikan agama sesuai kebutuhan peserta didik. Dengan model pendidikan yang tepat maka dapat diwujudkan empat domain yang menjadi ukuran kecerdasan suatu bangsa. Keempat domain itu adalah, pertama, memiliki kualitas berpikir yang baik apakah itu berpikir logis ataupun strategis. Kedua, memiliki kualitas dalam tindakannya baik untuk mengatasi masalah atau mengembangkan diri. Ketiga, memiliki kualitas hidup sebagai suatu bangsa yang berdaulat dan dapat menentukan nasibnya sendiri dan keempat memiliki kualitas hidup untuk bersama-sama dengan bangsa lain di dunia. Guru pendidikan agama dapat mengembangkan model eksplorasi sosial dalam mengajarkan nilai-nilai agama pada peserta didik. Sebagai langkah pertama, guru harus mampu merencanakan aspek-aspek khusus dari tujuan yang akan dicapai. Selanjutnya guru harus memilih metode yang tepat untuk menyajikan materi tersebut. Sebaiknya guru memberikan keleluasaan kepada anak melakukan brainstroming terhadap tema-tema atau kasus yang dikemukakan guru. Mereka diberikan kesempatan berdiskusi dalam kelompok kecil atau diskusi kelas tentang berbagai problem aktual yang disampaikan oleh guru. Pada tahap selanjutnya mereka diharapkan mampu memilih nilai apa yang akan dikaji dan dianalisa sesuai konteks ilmu pengetahuan agama. Pendidikan agama memiliki fungsi yang penting dalam pengembangan watak dan kepribadian anak didik. Ia juga berperan dalam pengembangan sistem kehidupan bangsa yang sehat sehingga mampu melahirkan generasi yang tumbuh secara bertanggung jawab. Agar pendidikan ini mampumemenuhi fungsi tersebut, jangandiajarkan secara dogmatis, kaku, dan meninggalkan aspek-aspek konstektual sosial budaya yang dimiliki masyarakat. Sumber: Duniaguru &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-5595927156493700071?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/5595927156493700071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=5595927156493700071' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/5595927156493700071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/5595927156493700071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/mengapa-pendidikan-agama-tak-menarik.html' title='Mengapa Pendidikan Agama Tak Menarik'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoXOl9sR6I/AAAAAAAAAAw/otvwn7q5ekM/s72-c/ngj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-8833314252139343107</id><published>2008-09-12T13:45:00.001+07:00</published><updated>2008-09-12T13:46:25.410+07:00</updated><title type='text'>Kayalah Lalu Masuk Surga!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoQMbMruFI/AAAAAAAAAAc/3VzBp-Wyds4/s1600-h/DOA+T_m.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245022521671792722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoQMbMruFI/AAAAAAAAAAc/3VzBp-Wyds4/s320/DOA+T_m.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: &lt;a title="Profile of Rikza Maulan, M.Ag" href="http://www.dakwatuna.com/author/rikza"&gt;Rikza Maulan, M.Ag&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="Kirim" href="http://www.dakwatuna.com/2008/kayalah-lalu-masuk-surga/email/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a title="'" href="http://www.dakwatuna.com/2008/kayalah-lalu-masuk-surga/print/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;dakwatuna.com - Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)&lt;br /&gt;Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:&lt;br /&gt;“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)&lt;br /&gt;Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”&lt;br /&gt;Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)&lt;br /&gt;Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat&lt;br /&gt;mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.&lt;br /&gt;Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.&lt;br /&gt;Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.&lt;br /&gt;Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:&lt;br /&gt;“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:&lt;br /&gt;Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.&lt;br /&gt;Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)&lt;br /&gt;Harta itu tidak menyebabkan sombong&lt;br /&gt;Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”&lt;br /&gt;Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”&lt;br /&gt;Menjadi fasilitas untuk silaturahim.&lt;br /&gt;Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;Menjadi fasilitas untuk perjuangan.&lt;br /&gt;Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).&lt;br /&gt;Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-8833314252139343107?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/8833314252139343107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=8833314252139343107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/8833314252139343107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/8833314252139343107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/kayalah-lalu-masuk-surga.html' title='Kayalah Lalu Masuk Surga!'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoQMbMruFI/AAAAAAAAAAc/3VzBp-Wyds4/s72-c/DOA+T_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8849811817845656730.post-1903104910735232718</id><published>2008-09-12T13:16:00.000+07:00</published><updated>2008-09-12T13:25:16.272+07:00</updated><title type='text'>Keutaman Bulan Ramadhan dan Beramal di Dalamnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoJj4r98VI/AAAAAAAAAAM/WG7tAqV90Nk/s1600-h/kurms.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245015228143235410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoJj4r98VI/AAAAAAAAAAM/WG7tAqV90Nk/s320/kurms.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Diposting oleh Team Ihya As-Sunnah di &lt;a title="permanent link" href="http://ruqyah-online.blogspot.com/2008/01/keutaman-bulan-ramadhan-dan-beramal-di.html"&gt;10:01 PM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).2. "Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : "Aku berada di tempat 'Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah ( dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan." (Riwayat Ahmad dan Nasai )3. "Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda :" Shalat Lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi." ( H.R.Muslim)4. "Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur'an itu memintakan syafa'at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat." ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).5. "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut " Rayyaan". Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).6. Rasulullah saw. bersabda : "Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang" ( HR.Bukhari Muslim).KESIMPULAN : Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :Bulan Ramadhan adalah:* Bulan yang penuh Barakah.* Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.* Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.* Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.* Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri. (dalil 1 &amp;amp; 2).Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :* Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.* Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syafaa't.* Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).Maraji'(Daftar Pustaka):1. Al-Qur'anul Kariem2. Tafsir Aththabariy.3. Tafsir Ibnu Katsier.4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.Oleh Ustadz Abu Rasyidsabah.org&lt;br /&gt;http://ruqyah-online.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8849811817845656730-1903104910735232718?l=kalimat-tayyibah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/feeds/1903104910735232718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8849811817845656730&amp;postID=1903104910735232718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1903104910735232718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8849811817845656730/posts/default/1903104910735232718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalimat-tayyibah.blogspot.com/2008/09/keutaman-bulan-ramadhan-dan-beramal-di.html' title='Keutaman Bulan Ramadhan dan Beramal di Dalamnya'/><author><name>Achmad Fauzi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05199146482872401584</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_mA8VWt7LgRI/SMoJj4r98VI/AAAAAAAAAAM/WG7tAqV90Nk/s72-c/kurms.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
