Jumat, 21 November 2008

ILMU YANG MEMBAWA MANFAAT


6 Syarat Mendapatkan Ilmu
Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, dalam bab qafiyah nuun (syi’ir yang berakhiran huruf nun) 6 syarat yang harus dipenuhi agar bisa mendapatkan ilmu, yaitu Kecerdasan, semangat, sabar dan pakai ongkos (biaya) Petunjuk (bimbingan) guru dan dalam tempo waktu yang lama
1. Dzaka’ (kecerdasan).
Kecerdasan ada dua macam. Pertama: pemberian dari Allah swt (minhah) dan kedua: muktasab, dalam arti seseorang bisa menumbuh kembangkan dan mengupayakannya.
Sering-sering membaca buku, malu kita kalau tidak rajin membaca buku, jangan sampai kita terkena ejekan ummatu IQRA’ LA TAQRA’ (ummat yang wahyu pertamanya berbunyi IQRA‘ kok malah tidak MEMBACA).
Sering-seringlah menuliskan apa-apa yang anda baca, anda dengar dan anda saksikan. Belajarlah merapikan ide-ide dan pengetahuan anda. Tuangkanlah segala gagasan anda dalam bentuk tulisan. Ingatlah bahwa wahyu kedua yang turun kepada nabi Muhammad saw adalah surat AL QALAM (pena), sebagaimana pendapat yang paling kuat yang dipegang para ulama’. Dalam surat ini Allah swt bersumpah dengan AL QALAM dan APA YANG DITULISKAN OLEHNYA.
Biasakanlah mengikuti dan melakukan diskusi-diskusi ilmiyah, ya … ilmiyah, bukan diskusi penuh emosi, adu otot, debat kusir dan semacamnya, akan tetapi , sekali lagi, diskusi ilmiyah.
Ajarkanlah apa-apa yang telah anda ketahui kepada orang lain. Atau istilah para ulama’: tunaikanlah zakat ilmu anda, sebab, dengan zakat ilmu ini, ilmu anda akan bersih (thahir) dan semakin tumbuh dan berkembang dengan lebih baik (tazkiyah).
Kalau istilah guru kampung saya, ilmu itu ibarat api (sebenarnya yang lebih pas sih cahaya, nur, tapi nggak mengapa-lah), bila kita mempunyai api, lalu ada orang lain datang membawa kayu, dan ia meminta api kepada kita, maka api itu akan semakin besar dan semakin banyak.
2. Hirsh (semangat).
Menurut saya, hirsh itu adalah hasil dari kesadaran, kesadaran akan kelemahan dirinya dalam ilmu pengetahuan, kesadaran bahwa dirinya mempunyai potensi untuk mendapatkan ilmu, kesadaran bahwa thalabul ‘ilmi itu faridhah, kesadaran bahwa dirinya –sebagai da’i- mesti dan harus berbekal ilmu dan kesadaran bahwa dirinya termasuk dalam kategori orang-orang yang la yadri lakinnahu yadri annahu la yadri (tidak tahu, tetapi tahu bahwa dirinya tidak tahu),bukan orang-orang yang la yadri wala yadri annahu la yadri (tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu), sebagaimana yang diungkapkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya’-nya.
Saudara dan saudariku yang dimulyakan Allah swt … Sebagai kader da’wah, kita tidak boleh kehilangan hirsh ini, jangan sampai kita datang ke majlis ta’lim untuk sekedar memenuhi buku kehadiran, atau karena pertimbangan daripada, daripada…kita harus datang ke majalisul ‘ilmu karena sifat hirsh kita, dan dalam rangka memenuhi faridhah islamiyyah.
3. Ishthibar (penuh kesabaran).
Ilmu adalah kesabaran, jangan banyak keluh kesah, jangan terburu-buru, dan jangan frustasi.
4. Bulghah (biaya, ongkos).
Berbagai acara ta’lim yang sangat murah, bahkan gratis, artinya, persyaratan ini telah banyak dipangkas olehnya, karenanya, jangan kehilangan persyaratan lainnya.
5. Irsyadu Ustadz (petunjuk dan bimbingan guru).
Menghidupkan kembali apa-apa yang ada pada salafush-saleh. Diantara yang ada pada mereka adalah adanya model-model QARA-A ‘ALA (membaca kitab/ilmu dihadapan … ), SAMI-’A MIN (mendengar pembacaan kitab/ilmu dari …), AKHADZA ‘AN (mengambil dalam arti mendapatkan kitab/ilmu dari …), HASHALAL IJAZATA MIN (mendapatkan ijazah atau ijin untuk mengajarkan kitab/ilmu dari …) dan seterusnya. Karenanya, kita semua harus menghidupkan kembali sunnah (jalan, dan metode) ini, sebab, salah satu tolok ukur ke-orisinil-an sebuah ‘ilmu adalah diambil dari mana (siapa gurunya) dan siapa saja yang belajar kepadanya.
6. Thulu Zaman (dalam jangka waktu yang panjang).
Janganlah mengandalkan hal-hal yang serba KILAT, kursus kilat, belajar cepat, dan semacamnya. Ingat, Rasulullah saw menerima Al Qur’an bukan dalam tempo cepat, padahal beliau adalah orang Arab, dari suku yang paling fasih bahasanya, dan beliau sangatlah cerdas dan masih banyak lagi kelebihan beliau, namun, beliau menerima Al Qur’an itu dalam tempo lebih dari dua puluh dua tahun (22 tahun lebih).
Dan akhirnya, semoga Allah swt senantiasa menambahkan ilmu kepada kita dan menjadikan semua ilmu kita itu bermanfa’at fid-diini wad-dun-ya wal akhirah, amiiin.
Oleh : Musyaffa’ Ahmad Rahimsumber : keadilan.or.id

ADAB PENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah I dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah I sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu MajahTetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabarTermasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.Di samping itu, mencari kebenaran dalam ilmu sangat penting karena sesungguhnya pembawa berita terkadang punya maksud yang tidak benar, atau barangkali dia tidak bermaksud jahat namun dia keliru dalam memahami sebuah dalil.Wallahu 'Alam.Dikutip dari " Kitabul ilmi" Syaikh Muhammad bin Shalih Al'Utsaimin.(Abu Luthfi)
http://artikel.aldohas.com

1 komentar:

Novi Effendi [Abu Hafsh] mengatakan...

masya Allah, artikek yang bagus dan bermanfaat. Novi Effendi Blog